Malu-malu Mengorek Kisah Tentang Ayah

Hanif MahaldiBanyak topik yang bisa ditulis dan dibahas untuk menjadi sebuah buku. Menariknya, topik yang sama akan menciptakan hasil yang berbeda-beda disetiap orang yang menuliskannya. Saya sendiri, menuliskan topik tentang Ayah, orangtua laki-laki, dari sudut pandang yang jarang dibahas.

Lahirnya buku, “Semua Tentangmu, Ayah” yang diterbitkan oleh Metagraf sendiri merupakan buku ketiga dari dua buku sebelumnya yang masih membahas tentang Ayah.

Walau akhirnya, banyak kesalahpahaman oleh pembaca (calon pembaca tentunya) yang mengira jika buku yang saya tulis tersebut berupa fiksi. Novel atau kumpulan cerpen. Bahkan ada yang mengira buku yang saya tulis adalah buku tentang parenting. Seringnya kesalahpahaman yang terjadi menyebabkan saya sendiri harus mengunggah beberapa potongan isi buku ke sosial media, Twitter terutama. Hanya untuk menjelaskan lebih gamblang bahwa buku yang saya tulis adalah kesan dari sudut pandang seorang anak.

Menariknya lagi, banyak yang mengira saya sudah berkeluarga. Tidak bisa mengelak dari pertanyaan yang sama berulang kali. Tapi tentu pengalaman menarik itu tidak menyurutkan saya untuk terus bisa mengulik kehidupan antara Ayah dan anak. Toh, akhirnya nanti saya juga sampai pada fase dimana akan menuliskan sebuah buku tentang parenting.

Jujur, saya sendiri sering malu. Bukan karena buku itu telah terbit. Tapi pada proses penciptaannya. Buku non-fiksi membutuhkan riset. Namun tidak sedalam penelitian untuk skripsi, tesis dan disertasi. Karena tetap harus menarik dibaca oleh siapapun yang membelinya. Tidak menggurui, tidak memusingkan juga. Informatif dan tetap memberi kesan apalagi manfaat. Malu, karena riset yang saya gunakan salah satunya adalah bertanya langsung pada Ayah (bapak).

Kedekatan saya dengan Ayah cukup menarik. Beliau orang yang suka membaca buku (walau tidak pernah tuntas) dan akhirnya menjadi koleksi di rak-rak di rumah. Sehingga beliau suka sekali menghabiskan waktu bersama saya (jika kebetulan duduk berdua misalnya) dengan beragam topik yang ujung-ujungnya, MENASIHATI.

Malu jika ketahuan saya duduk diam, bertanya dan mengobrol tentang pengalaman masa mudanya agar beliau mau mengeluarkan beragam petuah dan nasihat. Tujuannya tentu untuk saya catat dan butuhkan dalam perenungan pembuatan buku tersebut. Sehingga harus saya kombinasikan lagi dengan metode kedua yaitu membuat polling sederhana di sosial media Twitter. Bertanya langsung pada para followers mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Ayah mereka.

Oh, tentu, bukan berarti saya tidak menemui kesulitan. Di Twitter saya, akun @NasihatAyah, tidak selalu mendapatkan respon positif terhadap setiap pertanyaan yang saya ajukan. Sehingga harus melontarkan pertanyaan berkali-kali di jam yang berbeda, atau di hari yang berbeda. Itulah yang menyebabkan pengerjaan buku bisa sampai berbulan-bulan.

Sedih sebenarnya. Tapi menyenangkan. Jika kamu tertarik ingin lebih jauh tentang Ayah dari sudut pandang anak (saya sendiri), bisa loh mencari buku saya di Gramedia (masih hangat disana). Tentu juga bisa diskusi bareng lewat Twitter. Tentang sosok Ayah, atau tentang kepenulisan itu sendiri.

Lalu kalau sudah tiga buku yang membahas tentang Ayah, apakah saya akan menuliskan lagi tentang Ayah untuk buku selanjutnya? Tentu, tapi belum dalam waktu dekat. Karena saya masih terus belajar banyak hal tentang penulisan dan banyak followers yang menanti saya menulis fiksi tentang Ayah. Belum kesampaian sih, karena masih terus mencoba. Ternyata jauh lebih rumit menulis fiksi. Tapi buku “Semua Tentangmu, Ayah” yang telah diterbitkan oleh Metagraf bisa menjadi landasan awal kamu untuk tahu lebih jauh mengenai sosok Ayah yang sudah saya tuliskan. Daripada penasaran terus. Semoga nantinya buku itu juga bermanfaat buatmu.

(Ditulis oleh: Hanif Mahaldi)

1 Comment

  1. knapa harus malu kalau ayah mu pahlawan untuk keluarga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Tiga Serangkai