Game-D: Behind the Scene

Game_DGame-D, apa itu?

Terdengar asing dan aneh ya?

Game-D adalah novel terbaru saya yang diterbitkan oleh penerbit Metamind—imprint dari penerbit Tiga Serangkai. Untuk genre novel kali ini tentunya berbeda dengan genre-genre novel sebelumnya. Bila sebelumnya saya dikenal dengan tulisan bergenre romance dan horor untuk remaja, maka di novel kali ini saya mengangkat tema science fiction yang cocok untuk praremaja, juga anak-anak.

Senang sekali diberi kesempatan oleh Tiga Serangkai untuk bercerita di balik layar dari proses penulisan Game-D.

Awal penulisan novel ini, sebenarnya berasal dari unsur ketidaksengajaan. Waktu itu, saya ingin bisa menulis sebuah buku yang bisa dinikmati oleh teman-teman semua (khususnya usia anak-anak, dan menjelang remaja), dan berguna bagi mereka. Mengingat, kebanyakan buku yang ditulis oleh penulis lokal kita bergenre remaja ke atas, atau dewasa. Selain itu, sering sekali prihatin jika melihat usia yang masih dibilang belum cukup matang sudah membeli dan membaca buku-buku dewasa. Hiks, sedih.

Ide dari penulisan novel ini sebenarnya sederhana, datang begitu saja saat saya mengamati persahabatan anak-anak SD di sekitar rumah. Sekelompok anak-anak SD tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda; ada yang badung, ada yang pendiam, ada yang usil, ada yang serbaaktif, dan masih banyak lagi. Dari sana akhirnya lahirlah sosok Albert dan keempat temannya: Jasmine, Alian, Rico, dan July.

Lalu, kenapa science fiction?

Hmm, sebenarnya, sebelum terjun sebagai penulis novel romance, novel-novel saya yang terdahulu bergenre fantasi dan science fiction. Begitu pula dengan cerpen-cerpen yang dimuat di media; hampir sebagian besar bergenre science fiction. Namun, awal dari draf naskah Game-D sendiri sebenarnya adalah fantasi. Setelah melalui tahap editing, dan mendapatkan masukan dari kakak editor; saya senang sekali saat kakak editor memberi masukan, apakah saya bersedia untuk menjadikan Game-D sebagai novel science fiction.

Perubahan dari fantasi menuju ke science fiction, syukurlah, tidak mengalami kesulitan yang berarti. Saya hanya perlu menambahkan beberapa unsur untuk mematangkan, dan memangkas beberapa bagian yang masih ‘agak’ fantasi. Dibantu masukan dari kakak editor, alhamdulillah prosesnya bisa berjalan lancar. Saya juga senang sekali waktu kakak editor menyarankan untuk mengubah Game-D menjadi bergenre science fiction, karena dengan begitu saya bisa menambahkan informasi-informasi terkini tentang iptek, yang bisa dinikmati sambil membaca novelnya. Jadi jangan khawatir bosan, ya. Karena dengan membaca buku ini, semoga teman-teman bisa mendapatkan dua hal sekaligus saat membaca buku ini: hiburan dan ilmu baru.

Begitu proses poles-memoles naskah selesai, saya dan kakak editor segera mendiskusikan mengenai ilustrasi untuk buku ini. Saya begitu senang saat kakak editor ‘meluluskan’ permintaan saya untuk memberikan ilustrasi di dalam buku ini. Dan kami pun berdiskusi, bagian mana saja yang akan diberi ilustrasi biar tambah ‘menggigit’. Dan, semoga dengan adanya ilustrasi-ilustrasi kece di buku ini, bisa membuat teman-teman semakin betah membacanya. Terus, bisa juga membantu teman-teman ‘mengimajinasikan’ adegan-adegan penting di dalam buku ini.

Kover, itu adalah bagian terakhir yang membuat saya tercengang. Terima kasih banyak untuk kakak ilustrator, kakak editor, dan tim Tiga Serangkai yang sudah memberi konsep keren untuk kover novel science fiction ini. Seru. Kece. Luar biasa. Tiga kata itu saya rasa cocok untuk menggambarkan kover Game-D.

Lalu kenapa Game-D, dan apa itu Game-D? Semua jawaban ada di novel ini.

Nah, bagi teman-teman yang penasaran dengan buku ini, silakan memburunya. Oh iya, sebelum membaca bukunya, yuk diintip book trailer-nya di sini:

(Yoana Dianika)

4 Comments

  1. Jujur yang terlintas di pikiran saya saat mendengar game-D adalah game tentang “death” mungkin karena inisialnya huruf D. Beneran tentang kematian gak sih??? Lol…anyway cukup penasaran karena saya juga suka kisah science fiction. Good Job buat penulisnya karena gak gampang nulisnya. 😀

  2. Begitu membaca artikel ini, yang terlintas di kepalaku tentang Game-D adalah sebuah permainan maut seperti permainan dalam novel Hunger Games, sejujurnya memang seperti itu, apalagi aku pernah membaca novel horror penulis yang membahas permainan maut menakutnya bernama Sadapti. Game-D pun menurutku adalah sebuah permainan maut untuk mendapatkan sesuatu yang sangat-sangat-berharga, mungkin harta karun atau semacamnya. Entahlah, tetapi menurutku seperti itu. Bisa jadi, Game-D, arti dari D itu adalah Death, jadi permainan maut, bisa kan? Hehehe, menurutku sih itu.

  3. “Begitu membaca artikel ini, yang terlintas di kepalaku tentang Game-D adalah sebuah buku yg menceritakan tentang kisah petualangan yg seru yg terjadi di pulau kecil, dan pastinya bakal banyak menambah ilmu pengetahuan juga, pokoknya bikin penasaran deh..

  4. Begitu membaca artikel ini, yang terlintas di kepalaku tentang Game-D adalah sebuah permainan yang mungkin akan ada di abad mendatang. Atau boleh dikatakan permainan dari masa depan yang mendatangi kita di masa kini. Bukan sebuah permainan mengerikan namun semacam petunjuk akan seperti apa dunia mendatang. Bahasa program dalam Game-D lebih ilmiah dan ‘njelimet’. Kalau menyangkut cerita, aku rasa ini adalah kisah anak anak menjelang remaja yang menemukan sesuatu baru lewat sebuah permainan. Mereka anak anak pilihan yang ditunjuk untuk menjaga kedamaian bumi. Mereka dipertemukan dalam sebuah aplikasi game dan akhirnya saling bersinergi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*