Proses Kreatif Novel Kaki Langit Talumae

Kaki Langit TalumaeBenang merah dan inspirasi novel Kaki Langit Talumae sudah lahir sejak saya mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada tahun 2008 sebagai salah satu syarat agar dapat menyandang gelar sarjana di salah satu universitas negeri di kota Makassar. Lokasi KKN saya di sebuah desa terpencil di Sulawesi Selatan, tepatnya di desa Talumae, kecamatan Watansidenreng, Sulawesi Selatan. Seusai KKN selama dua bulan, saya menulis cerpen tentang keindahan dan kebiasaan lokal dari masyarakat desa Talumae. Kemudian saya coba untuk mengirimkannya ke beberapa media lokal. Cerpen tersebut saya beri judul 'Senandung Talumae'. Namun, tak ada satupun koran lokal yang memuat cerpen tersebut. Saya pun mengirimkan cerpen tersebut di koran dan majalah nasional, namun hasilnya sama saja.

Bertahun tahun, naskah cerpen tersebut tersimpan di file laptop bersama puluhan naskah cerpen lain yang belum jadi atau sudah jadi tapi tak pernah saya publikasikan. Hingga pada tahun 2014 kemarin, secara tak sengaja saya membaca di internet perihal lomba novel remaja yang di adakan oleh penerbit Tiga Serangkai. Saya sangat ingin mengikuti lomba tersebut, dan sesegera mungkin merangkai kata demi kata sesuai tema lomba, namun beberapa judul cerpen tidak selesai dan menemui jalan buntu.Salah satunya karena deadline lomba yang tinggal dua minggu lagi dan kesibukan saya bekerja.

Hingga suatu malam, dalam lamunan panjang di temani kepulan asap rokok dan secangkir kopi hitam, saya kembali teringat tentang naskah cerpen 'Senandung Talumae'. Segera saya buka kembali dan merombak semua isi cerpen serta menyulapnya menjadi sebuah novel dengan jumlah halaman mencapai 195. Nyaris tanpa halangan berarti, ide mengalir seperti air terjun yang sangat segar dan sejuk. Meski terkadang tetap mengalami kebuntuan ide. Saat novel sudah jadi dan saya siap mengirim naskah melalui kantor pos, deadline lomba tinggal dua hari. Dan malapetaka terjadi saat saya berada di kantor pos, mba’ petugasnya bilang dibutuhkan waktu paling lambat tiga hari untuk sampai ke lokasi penerbit, saya protes meminta paket pengiriman paling cepat, dia membalas itu sudah yang paling cepat. Saya tak bisa mengirim melalui perusahaan jasa pengiriman swasta karena peraturan lomba mengharuskan dikirim melalui kantor pos.

Saya lesu, tubuh seperti kehilangan nyawa. Saya pasrah dan tetap mengirimkan naskah novel tersebut. Dalam perjalanan pulang, saya mengumpat diri sendiri, mengapa tak memperhitungkan waktu, mengapa pula naskah ini tak pernah berhasil menembus media untuk dipublikasikan? apa salah naskah ini, mungkin saja ini kutukan?!!. Hari berganti hari, saya sudah melupakan kejadian itu, atau tepatnya saya sudah bisa menerima nasib saya, yah belum waktunya, belum takdirnya.

Namun, tiga hari kemudian, saat berselancar di media sosial, saya sangat terkejut ketika penerbit ternyata memperpanjang deadline lomba, lomba diperpanjang. Itu berarti saya masih punya kesempatan, itu berarti naskah saya masih ada kekuatan untuk bersaing dengan naskah naskah lain. Beberapa detik merasa sangat senang, saya kembali lesu karena ternyata yang ikut lomba sangat banyak, dari sabang sampai merauke. Tapi saya mencoba optimis, toh, naskah saya tidak jelek. Beberapa kawan memuji, meski saya tidak tahu itu pujian tulus atau hanya sekedar menyenangkan saya. Tapi, teman yang saya minta pendapat bukan teman sembarangan, mereka adalah para penulis yang karya nya telah dimuat di beberapa media kampus bahkan media lokal di daerah saya.

Hari berganti bulan, detik detik pengumuman tiba, setelah diundur beberapa kali, akhirnya penerbit Tiga Serangkai akan mengumumkan pemenang lomba pada hari itu. Saya menunggu sejak pagi hari, siang hari dikantor, perasaan saya harap harap cemas, saya beberapa kali mengakses situs penerbit tersebut namun belum ada pengumuman sama sekali. Saat pulang kantor sore hari, seusai mandi saya berbaring sejenak dan menikmati es buah di kamar. Handphone saya mainkan untuk membuka kembali situs penerbit Tiga Serangkai... dan.. nama saya terpampang disana sebagai juara II, terkejut.. padahal saya tidak menyangka bisa meraih juara II. Dalam pikiran saya, meskipun berhasil menang, itu pun pasti hanya juara harapan mengingat jumlah peserta yang sangat banyak, dan tentunya adalah orang orang yang sudah ahli dalam dunia sastra dibandingkan dengan saya yang sama sekali bukan berasal dari mahasiswa dan penggiat sastra..

Saya bangkit dari tempat tidur kemudian sujud syukur kepada Allah SWT. Esok harinya saya di telepon oleh pihak penerbit untuk mengirimkan file asli dan beberapa dokumen lainnya. Hari itu juga saya melaksanakan nazar saya yang saya ikrarkan jika nantinya saya berhasil menang. Duuh, akhirnya.. setelah sekian tahun akhirnya kisah tentang desa Talumae bisa dibaca oleh orang banyak.

Saya menemukan sebuah ungkapan, bahwa setiap tulisan memiliki takdirnya sendiri.. dan saya percaya itu, inilah takdir naskah Tentang desa Talumae, menjadi sebuah novel.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*