Ini Hal yang Harus Dilakukan Ketika Mengirim Naskah ke Penerbit

Salah satu pekerjaan yang saat ini menjadi hits dan kekinian kalau boleh saya bilang adalah menjadi penulis. Kenapa? Karena saat ini makin banyak orang berlomba-lomba untuk menerbitkan buku. Walaupun sebenarnya menjadi penulis tidak selalu identik dengan menerbitkan buku. Well, itu akan kita bahas kali lain J. Saat ini yang akan saya bahas adalah apa saja yang harus kamu lakukan ketika mengirimkan naskah ke penerbit.

Tata cara mengirimkan naskah ke penerbit sebenarnya hampir semua memiliki standar yang sama. Etika yang sama. Umumnya akan sedikit berbeda di bagian teknis saja. Pengalaman saya selama ini ketika menerima berbagai naskah yang masuk, membuat tangan saya “gatal” untuk menuliskan hal-hal di bawah ini.

  1. Kenali Penerbitmu

Ya, sepertinya ini hal yang sepele. Tapi sungguh, yang sepele ini kadang sering kali terlupakan. Seperti halnya ketika kamu ingin pedekate ke cewek atau cowok gebetan kamu, tentunya kamu akan mencari informasi sebanyak mungkin tentang gebetanmu, kan? Apa makanan kesukaannya? Siapa penyanyi favoritnya? Film apa yang suka ia tonton?

Nah, di sini juga berlaku hal yang sama. Cari informasi sebanyak mungkin tentang penerbit yang akan kamu kirimkan naskahnya. Jika penerbit itu berdiri dalam satu grup, mereka punya imprint apa saja? Buku-buku apa saja yang mereka terbitkan. Cari di toko buku. Buka website-nya. Hunting di internet. Datang ke perpustakaan.

Sehingga suatu saat saya tidak akan menerima e-mail seperti ini lagi, “ Mbak, saya suka bikin novel. Di TS menerbitkan novel?”

Hei, kamu akan menyerahkan berpuluh atau beratus tulisan yang keluar dari hatimu, masa kamu nggak mau usaha sedikit? J

  1. Basa-Basi Itu Kadang Penting

Basa-basi yang saya maksud di sini itu adalah basa-basi ketika kamu mengirimkan naskah ke penerbit. Okay, kamu sudah paham segala macam tentang sejarah penerbit favoritmu. Naskah pun sudah kamu siapkan untuk dikirim. Berbulan-bulan kamu tidak tidur demi menyiapkan “masterpiece” ini. Kamu yakin seyakin-yakinnya bahwa naskah ini nantinya akan langsung diterima dan menjadi best seller. Tapi ternyata, lain harapan lain kenyataan. Naskahmu ditolak. Kenapa? Kamu kurang basa-basi J.

Kamu mengirimkan naskah via e-mail tanpa prolog atau pengantar sama sekali. E-mail mu bersih. Hanya berisikan attachment naskah dalam bentuk PDF saja. Ketika PDF itu dibuka pun langsung berhadapan dengan bab 1. Tanpa ba bi bu.

Eh, kamu mengirimkan apa, nih?

Nah, coba untuk sedikit berbasa-basi. Buat perkenalan di badan e-mail. Jelaskan maksud kamu mengirimkan e-mail tersebut. Tulis harapanmu. Orang yang menerima e-mailmu tentu akan lebih merasa senang membacanya J.

  1. Jangan Asal Copy Paste

Ketelitian itu adalah bagian dari pembelajaran seorang (calon) penulis. Ketika kamu mengirimkan naskah ke penerbit, disertai dengan surat pengantarnya, teliti sekali lagi, apakah benar surat pengantar itu ditujukan ke penerbit yang kamu kirim?

Jangan sampai ketika kamu menuliskan surat pengantar ke Penerbit A, tetapi kamu malah mengirimkannya ke Penerbit Z.

Hei, saya kok super duper yakin  naskah kamu belum sempat dibuka/dibaca, sudah dinyatakan tidak lolos duluan J.

  1. Jangan Mengirimkan Naskah yang Sama Berulang

Saya tahu kegigihan itu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari seorang penulis. Makin gigih seorang penulis, saya akan makin salut dan angkat topi (walaupun saya nggak pakai topi, hehehe).

Namun, penulis yang gigih juga harus pintar. Jangan mengirimkan naskah yang sama berulang kali. Apalagi kalau naskah itu dari awal sudah ditolak oleh penerbit yang bersangkutan.

Saya pernah menerima 3 kali naskah yang sama dalam rentang waktu satu tahun. Dalam pikiran saya saat itu adalah penulis ini gigih sekali atau nggak punya karya yang lain, ya?

Ya, cobalah untuk membuat lebih banyak karya. Makin banyak karya yang kamu buat, akan makin beragam pula tulisan yang kamu kirimkan ke penerbit, kan?

  1. Manfaatkan Attachment

Pernahkah kamu membaca atau menerima sebuah novel dalam badan e-mail? Ya, saya pernah. Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran si pengirim e-mail tersebut. Mungkin aplikasi word-nya sedang bermasalah, sehingga dia harus mengirimkan tulisannya langsung di badan e-mail J.

Akan lebih cantik dan manis kalau kamu mengirimkan naskah via e-mail dilampirkan dalam attachment. Bisa dalam bentuk word atau PDF. Jangan repot-repot untuk menuliskannya di badan e-mail. Kalau sampai kejadian seperti itu, saya yakin, naskah sebagus apapun akan terlewat begitu saja J.

Kami tunggu karya-karyamu, dan tetap semangat! (NWA)

4 Comments

  1. Salam admin.
    Saya mau nanya, apa boleh mengirim naskah novel yang sudah terlanjur berbentuk buku, bukan file word atau sekedar dijilid rapi. Naskah itu sudah saya cetak awalnya untuk profread, dimensinya 13cm × 19cm, tebal 225 halaman, font size calibri 12, spasi 1. Kalo saya kirim, melanggar ketentuan penerbit ini gk ya? Mohon info nya.

  2. Tisera yang baik… Udah makan blom? *pedekate* 😀

    Noted lagi. Terimakasih sudah berbagi artikel yang bermanfaat ini 😉

  3. Salam
    Untuk ilustrasi buku, berasal dari pnerbitkah atau dari penulis sendiri. Terimakasih atas info0nya.

  4. Makasih tisera untuk artikelnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*