Siapa pun Bisa Menjadi Putri atau Pangeran

Kisah Para Putri dan PangeranCerita tentang putri dan pangeran selalu menarik bagi anak-anak. Saat masih kecil, saya senang membayangkan menjadi seorang putri, tinggal di sebuah istana megah, memiliki baju-baju yang indah, dan bisa meminta boneka atau mainan apa saja. Wah, betapa menyenangkan. Ya, khayalan menjadi seorang putri atau pangeran memang menyenangkan.

Sampai sekarang, ternyata kisah seorang putri atau pangeran masih tetap menarik. Banyak anak-anak yang suka pada cerita-cerita Putri Salju, Cinderella, Rapunzel, Putri Tidur, Putri Angsa, dan kisah-kisah lainnya. Keponakan-keponakan saya sendiri contohnya. Mereka bisa menceritakan tentang Rapunzel yang berambut sangat panjang dan dikurung di atas menara tinggi atau tentang Putri Salju yang tinggal di sebuah rumah kecil bersama tujuh orang kurcaci.

Lalu, sebuah ide muncul di kepala saya. Saya mendapat ide untuk menulis cerita-cerita tentang putri dan pangeran hasil rekaan saya sendiri. Lewat cerita-cerita itu, saya ingin berbagi dunia penuh imajinasi dengan anak-anak, termasuk dengan anak saya sendiri yang saat ini masih batita. Saya ingin menulis cerita-cerita yang tidak hanya menghibur, tapi juga mengembangkan imajinasi anak, serta mengandung hikmah. Saya ingin menyelipkan pesan moral yang baik bagi anak-anak. Saya ingin anak-anak tidak hanya mengenal kehidupan seorang putri atau pangeran dari penampilan fisik dan keindahan istananya saja. Yang lebih utama, seorang putri atau pangeran harus memiliki kecerdasan, kebaikan hati, keluhuran budi, serta kemuliaan akhlak.

Maka mulailah saya membuat konsep-konsep cerita dengan tokoh utama putri serta pangeran. Saya juga membuka gudang arsip naskah saya, untuk mencari cerita-cerita lama yang pernah saya tulis yang tokohnya adalah putri atau pangeran, serta belum pernah dimuat di media mana pun sebelumnya.

Akhirnya saya berhasil menyiapkan konsep dasar untuk cerita-cerita yang akan saya tulis serta cerita lama yang akan saya revisi. Sambil mengasuh si kecil, saya berusaha mencuri waktu untuk menuliskan cerita berdasarkan konsep yang sudah saya buat serta merevisi naskah lama. Agak susah dan agak  makan waktu lama juga, sebab si kecil tidak selalu bisa diajak bekerja sama. Kadang ia rewel saat saya sedang sibuk mengetik. Kadang ia berdiri berpegangan pada kursi saya sambil tertawa, sehingga perhatian saya pun teralih dari layar monitor langsung ke si kecil. Bila saya melembur mengetik di ruang kerja di malam hari saat ia tidur, tidurnya menjadi kurang nyenyak. Akhirnya saya sering membuka laptop di samping si kecil yang sedang tidur, agar tidurnya nyaman karena saya tunggui. Walaupun ribet dan capek, saya tetap bersemangat karena membayangkan bahwa tulisan saya nantinya juga bisa saya dongengkan pada anak saya. Bahkan jika naskah saya ini bisa diterbitkan menjadi buku cerita, maka kelak anak saya bisa membacanya sendiri. Demikian juga dengan anak-anak yang lain di seluruh Indonesia, dan mungkin juga di seluruh dunia, he...he...

Awalnya, cerita-cerita saya ini saya buat dalam format naskah untuk buku cerita bergambar (picbook) dalam satu seri yang terdiri atas beberapa buku. Setelah berhasil menulis delapan naskah cerita, saya pun mengirimkan naskah saya tersebut kepada penerbit A. Tapi ternyata naskah saya belum berjodoh di sana. Saya lalu merevisi beberapa bagian, kemudian mengirimkan naskah tersebut kepada Penerbit Tiga Serangkai.

Tak lama kemudian, alhamdulillah saya mendapat kabar bahwa naskah saya tersebut di-ACC untuk terbit. Mbak Yenni, salah seorang editor Tiga Ananda, yang menyampaikan kabar gembira tersebut.

Selanjutnya, beberapa kali saya diskusi dengan Mbak Yenni untuk mewujudkan naskah saya tersebut menjadi buku. Mbak Yenni menyampaikan bahwa cerita-cerita saya tersebut akan dibuat menjadi satu buku, bukan seri seperti yang saya usulkan. Mbak Yenni meminta saya merevisi beberapa bagian. Mbak Yenni juga meminta saya menulis dua cerita tambahan. Saya menulis lagi tiga cerita tambahan, agar bisa dipilih yang terbaik. Suami saya pun saya minta ikut berpartisipasi. Ia saya “paksa” libur kerja agar bisa menggantikan saya momong sehingga saya bisa mengerjakan naskah saya. Untungnya suami saya seorang wiraswasta sehingga bisa mengatur jam kerjanya sendiri tanpa terikat jam kantor. Ia juga sangat mendukung profesi saya sebagai seorang penulis.

Ketika hasil lay out buku saya tersebut dikirim ke email saya, saya merasa sangat gembira. Ilustrasi yang dibuat oleh kru InnerChild sangat bagus dan menarik. Saya senang membayangkan file hasil lay out yang bagus tersebut tidak lama lagi akan terwujud menjadi sebuah buku.

Akhirnya pada bulan April 2016, buku saya terbit. Kisah Para Putri dan Pangeran demikian judulnya. Di dalam buku ini terdapat sepuluh cerita, yaitu:

  1. Peraturan Aneh Sang Raja
  2. Atika dan Putri Laila
  3. Pawai Kereta Bunga
  4. Tiga Pangeran di Atas Kapal
  5. Putri Yasmin dan Pangeran Ahmad
  6. Pangeran Ulum Tak Mau Tersenyum
  7. Binatang Peliharaan Pangeran Abyan
  8. Perpustakaan Putri Mumtazah
  9. Pangeran Ammar Menunda Amarah
  10. Suara Merdu Putri Shalina

Kisah Para Putri dan Pangeran

Kisah Para Putri dan Pangeran

Dengan membaca buku ini, saya berharap anak-anak akan memperoleh hiburan serta dapat mengembangkan imajinasi mereka tentang kehidupan putri dan pangeran. Saya juga berharap anak-anak dapat memperoleh hikmah dan pelajaran yang berharga, bahwa siapa pun bisa menjadi putri atau pangeran. Yang mereka perlukan bukanlah wajah yang cantik atau tampan, harta yang berlimpah, ataupun istana yang megah. Tapi hati yang baik, budi pekerti yang luhur, akhlak yang mulia, serta kecerdasan dalam bersikap. Selamat membaca dan berimajinasi. (Siti Anisah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*