From Page to Screen

Cahaya Cinta PesantrenBulan September lalu, Komite Buku Nasional menggelar sharing session dengan judul “From Page to Screen”. Acara itu membahas tentang adaptasi karya tulis menjadi sebuah film. Bukan sesuatu yang baru, tetapi tren ini makin meningkat akhir-akhir ini.

Di Indonesia khususnya, sudah cukup banyak film yang diangkat dari novel. Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Negeri 5 Menara, dan Catatan Dodol Calon Dokter adalah beberapa di antaranya.

Bagaimana akhirnya novel-novel tersebut bisa diadaptasi menjadi film? Ternyata ada sejumlah hal yang mempengaruhi. Bisa berupa karena novel tersebut memiliki potensi (termasuk buku best seller), penulis yang ingin novelnya difilmkan, dorongan passion sang produser untuk memfilmkan sebuah novel, atau bisa juga dari pihak production house (PH) yang langsung menghubungi penerbit.

Lalu, bagaimana skrip film dibuat? Ternyata ada beberapa langkah yang dilalui. Pertama, novel atau buku dibaca untuk mendapatkan gambaran cerita utuh. Kedua, adaptasi literasi, yaitu mengubah naskah buku menjadi skenario film. Di sini, ada kemungkinan perubahan, misalnya bisa diungkapkan hal-hal yang sebelumnya tidak dijelaskan mendalam dalam novel atau mencari sudut pandang cerita yang baru. Ketiga, mengadakan audisi, memilih pemeran yang cocok untuk memerankan tokoh-tokoh yang ada. Setelah itu, mencari pendanaan untuk produksi dan memulai proses pengambilan gambar.

Salah satu novel terbitan Metamind, yaitu Cahaya Cinta Pesantren, termasuk salah satu novel yang dilayarlebarkan. Novel karya Ira Madan tersebut diadaptasi menjadi sebuah film oleh Fullframe Pictures dengan sutradara Raymond Handaya dan diproduseri oleh Ustad Yusuf Mansyur.

Memulai proses pengambilan gambar di Januari 2016 lalu, film Cahaya Cinta Pesantren diperankan oleh sejumlah aktris senior dan juga aktris muda berbakat, seperti Yuki Kato, Febby Blink, Vebby Palwinta, Silvia Blink, Rizky Febian, Elma Theana, Tabah Penemuan, Zeezee Shahab, Fachri Muhammad serta Wirda Mansur.

Film ini bercerita tentang seorang anak nelayan di Danau Toba bernama Shila (Yuki Kato), yang ingin melanjutkan sekolah ke SMA negeri terbaik di daerahnya. Namun, karena keterbatasan biaya, orang tuanya akhirnya memasukkannya ke sebuah pesantren.

Bagaimana adaptasi literasi yang terjadi? Silakan dibandingkan dengan membaca novelnya dan juga menonton filmnya yang rencananya akan diluncurkan pada Oktober 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*