Seri Cerita Pertamaku: Cute & Colorful!

Perspektif cerita pertamaku

Kabar Gembira di Awal Tahun

Cute dan colorful! Itu yang saya rasakan ketika pertama kali menerima bukti terbit Seri Cerita Pertamaku. Bersyukur sekali atas terbitnya naskah ini. Teringat perjalanan selama setahun ini.

Setahun lalu, persisnya Januari 2016, saya dihubungi oleh mbak Yenni Saputri dari Tiga Serangkai. Mbak Yenni membicarakan tentang sebuah ide buku cerita anak. Omong-omong, saya sudah pernah bekerja sama dengan mbak Yenni di buku Suatu Hari di Sungai Sey (masih ingat kan? Itu cerita seru Bonnie dkk. yang mengajarkan tentang Basic Manner). Kesempatan bekerja sama lagi dengan mbak Yenni tentu saja tidak dapat akan saya lewatkan.

Intinya, mbak Yenni punya ide membuat cerita untuk anak-anak usia batita, anak-anak yang baru pertama kali mengenal buku bacaan. Saya suka sekali ide ini. Saya masih merasa bahan bacaan untuk batita minim sekali. Mbak Yenni memaparkan idenya dengan jelas dan terperinci. Ini sangat memudahkan saya memahami (dan kemudian mengeksekusinya).

Saya lalu mulai searching tentang buku-buku sejenis. Semakin saya searching, semakin saya excited. Buku-buku semacam ini selalu super cute! Sudah terbayang asyiknya mengerjakannya.

Darimana Datangnya Titi, Lulu, dan Lipus?

Biarpun sudah terbayang asyiknya, saya memahami, mengerjakan buku-buku untuk anak batita tidaklah mudah. Saya harus membuat kalimat sependek, sederhana, dan seefektif mungkin untuk menyampaikan ide yang tidak sederhana dan di lain pihak, cerita saya harus bisa menghidupkan ruang imajinasi yang nantinya diampu oleh ilustrator dalam ilustrasi.

Dan, itulah yang saya alami. Saya kesulitan menyusun kalimat pendek dan sederhana untuk serial ini. Jalan keluarnya? Saya hentikan kegiatan menulis. Sebagai gantinya, saya baca berulang kali semua koleksi board book yang saya miliki. Ya, berulang kali, sampai saya merasa ‘seirama’ dengan kalimat-kalimat di dalam board book tersebut. Hasilnya? Kalimat-kalimat saya yang tadinya panjang dan sulit lumayan terkoreksi!

Berbeda dengan penulisannya yang terasa sulit buat saya, untuk membangun cerita dan tokoh saya nyaris tidak mengalami kesulitan berarti. Ide cerita seolah berdatangan. Dari mana datangnya? Dari cerita orang-orang di sekitar saya.

Cerita Membantu Lulu, misalnya, adalah kisah nyata yang dialami kemenakan saya yang masih berumur 7 tahun. Di suatu malam berhujan, ia pernah nekat keluar rumah untuk membantu seekor anak anjing milik tetangga yang terikat di sebatang pohon, kehujanan. Anak anjing itu menangis-nangis karena kehujanan dan kedinginan. Demikian juga dengan dua cerita yang lain. Semuanya berasal dari kisah nyata di sekitar saya. Jadi, bisa dibilang, saya tidak kekurangan bahan cerita.

Nama-nama tokoh juga saya ambil dari nama-nama anak-anak kecil tetangga saya. Bersyukurnya, nama-nama itu berima dengan karakter cerita, misalnya Titi yang seekor Tikus. Bisa dibilang, saya sangat terbantu oleh orang dan kejadian di sekeliling saya. Mereka seperti lemari penyimpan tempat saya mengambil ide.

Cerita Pertamaku

Bagian paling menarik dari penyusunan naskah ini adalah proses ilustrasi. Saya benar-benar takjub dengan ilustrasinya. Super cute dan colorful! Itu bukan hanya pendapat saya saja lho! Saya pernah post karakter-karakter Titi, Lulu, dan Lipus di facebook dengan tujuan minta pendapat teman-teman mengenai karakter mana yang paling bagus. Reaksinya sungguh tak terduga. Hampir semua teman yang memberikan komentar berpendapat bahwa ilustrasinya cute dan sangat menarik! Salut dengan keahlian Adlina Aidit membuat ilustrasi. Saya jadi tambah bersemangat ketika disodori dummy naskah ini. Wow! Ilustrasi yang colorful dengan layout yang cerdik membuat buku yang tadinya ‘hanya’ naskah ini menjadi hidup!

T E R B I T !

Akhirnya, Januari 2017 Seri Cerita Pertamaku ini terbit!

Sungguh, saya merasa sangat bangga akan karya saya bersama Tiga Ananda ini. Seri ini akan sangat membantu orang tua yang mencari bahan bacaan untuk batitanya.  Tidak sekadar bacaan, buku ini akan menjadi bacaan pertama putra-putri mereka. Senang rasanya jadi bagian dari sejarah literasi seorang anak.

Dengan segala kerendahan hati saya berharap Seri Cerita Pertamaku ini bisa diterima oleh para pembaca kecil di seluruh Indonesia.

Pekanbaru, 8 Februari 2017

Salam hangat,

Agnes Bemoe

1 Comment

  1. memang super cute, ilustrasinya 🙂
    sukses mbak Agnes Bemoe 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Tiga Serangkai