Membuat Akhir (Ending) Cerita Yang Baik

Saat membaca novel atau cerpen sering kali kita menemui akhir atau ending cerita yang sudah bisa kita tebak, tidak realistis, bahkan klise. Jika sudah sudah menghadapi hal seperti ini, sebagus atau seindah apapun opening line atau kalimat pembuka cerita jika ending-nya buruk atau sudah bisa kita tebak maka opening line tak akan ada artinya, sebatas pemanis di awal cerita saja. Bagaimana pun, pembuka, isi, dan penutup cerita adalah satu kesatuan, saling terkait dan mempengaruhi sehingga harmonisasinya tetap harus dijaga dengan baik.

Selain ending cerita yang predictable (bisa ditebak), kita juga sering mendapati akhir cerita yang terlalu dipaksakan, didramatisir, atau terlalu menukik dan terkesan ingin cepat-cepat disudahi. Jika demikian, tentu cerita yang awalnya sudah memikat menjadi “mentah”, tidak menarik lagi, bahkan mengecewakan.

Mengeksekusi sebuah ending cerita menjadi hal yang mutlak dikuasai oleh seorang penulis. Ini menjadi bentuk tanggung jawab penulis terhadap pembaca. Meskipun hanya sebatas satu atau dua paragraf, sebuah ending akan menunjukkan keutuhan cerita. Lebih jauh, akan menentukan nasib buku tersebut atau bahkan si penulis sendiri saat menelurkan karyanya lagi, masih diminati atau tidak. Ending yang baik itu yang seperti apa? Sebuah cerita memiliki ending yang baik jika menyuguhkan akhir cerita yang memikat dan bisa diterima khalayak pembaca. Artinya, meskipun ending itu tidak menyenangkan, pembaca tetap terkesan dan bisa menikmati dan menerimanya, tidak lantas menilai bahwa ceritanya tidak seru atau tidak asyik.

Kita tentu sudah tidak asing lagi dan banyak mengetahui jenis-jenis ending cerita. Ending cerita yang umum kita ketahui yakni akhir bahagia (happy ending), akhir tidak bahagia (sad ending), dan akhir tragis. Ketiganya termasuk ke dalam kategori close ending (ending tertutup), artinya sebuah ending yang memberikan akhir sebuah cerita tanpa menyisakan pertanyaan lagi.

Jenis ending yang lain adalah cliffhanger (menggantung), yakni sebuah akhir cerita yang tidak tuntas atau menggantung dan mempersilakan pembaca untuk menafsirkan sendiri kelanjutannya. Jenis ini masuk dalam kategori open ending, artinya ending yang memberi kesempatan kepada pembaca untuk memikirkan kelanjutan cerita.

Karena ending memiliki magnet daya tarik yang kuat bagi pembaca dalam menikmati sebuah karya maka perlu kiat untuk menciptakan ending yang memikat, selalu diingat, dan tidak klise.

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menentukan sebuah ending cerita yang baik.

  1. Memperjelas tujuan tokoh utama.

Hal ini dilakukan untuk menjaga relevansi cerita dari awal hingga akhir.  Misalnya, jika si tokoh dikisahkan ingin membongkar sebuah kasus kejahatan maka cerita harus menggambarkan apa saja upayanya untuk melakukan itu, sejauh apa ia berperan dalam menyelesaikan tugasnya. Tentu, menjadi kurang greget ketika si tokoh tidak menyentuh atau tidak terlibat maksimal dengan hal yang digelutinya.

  1. Berkaitan erat dengan konflik cerita.

Akan menjadi tidak masuk akal atau kurang realistis ketika konflik yang muncul dalam cerita justru tidak mendapatkan akhir atau jawaban, dan justru membuat ending yang melenceng atau keluar dari konflik. Ciptakan ending serealistis mungkin dengan konflik yang dimunculkan sehingga tidak membuka celah pertanyaan bagi pembaca.

  1. Memenuhi prinsip kausalitas (sebab-akibat).

Memunculkan adegan dalam cerita tentu berdasarkan atau dilatarbelakangi hal yang logis, begitupula dalam mengakhirinya. Hindari menciptakan kejutan cerita yang irasional. Misalnya, jika tokoh utama terlibat narkoba maka akibatnya atau konsekuensi logis yang harus dia alami atau terima seperti apa.

  1. Pastikan konflik utama tuntas (selesai) dan hindari menambah plot.

Bahkan, untuk sebuah open ending sekalipun, pastikan bahwa konflik utama yang dibangun sudah mendapatkan jalan keluar (solusi) meskipun konflik sampingan masih tersamar untuk diselesaikan. Untuk bagian penyelesaian ini, tak perlu lagi memperumit cerita dengan menambah plot, atau bahkan tokoh baru yang makin membuat pembaca bingung.

  1. Sesuaikan dengan bangunan cerita.

Jika cerita yang dibuat lebih bernuansa drama nan melankolis, sangat memungkinkan untuk menciptakan sad ending. Akan tetapi, jika cerita lebih bernuansa komedi atau humor akan sangat fatal jika menggunakan sad ending. Jadi, tetap sesuaikan antara ending dan bangunan cerita.

  1. Menawarkan kejutan (suspense) dan twist

Kejutan dan twist (perubahan mendadak dan tajam di luar dugaan pembaca) di akhir cerita bertujuan menciptakan akhir yang tidak klise, tidak mainstream, dan tidak mudah ditebak. Tapi, jangan lupa tetap mengedepankan logika. Menyiapkan ending dengan kejutan dan twist akan meninggalkan kesan tertentu pada pembaca. Pembaca akan dibuat takjub, terpukau, terharu, heran, bahkan geli. Jika sudah demikian, pembaca bukan hanya terhibur tapi juga terkesan, lebih jauh bisa mengambil nilai positifnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*