Birrul Walidain: Bentuk Cinta Ananda untuk Kedua Orang Tua

BirulwalidainMenjelang Subuh di suatu hari pada bulan Maret 2013, saya terhenyak. Ibu dari kampung mengabarkan bahwa ayah saya telah pergi, untuk selama-lamanya. Tenggorokan tercekat. Tangis pun pecah. Dada terasa sakit dan hati dipenuhi oleh beribu penyesalan. Teringat betapa di hari-hari sebelum sakit Ayah begitu sering menelepon. Teringat ketika sepekan sebelumnya Ayah mengatakan ingin sekali saya pulang kampung. Kangen, katanya. Satu kata yang belum pernah ia ucapkan terang-terangan kepada anak-anaknya.

Permintaan Ayah untuk bertemu saya mungkin terdengar biasa dan sederhana. Namun tidak demikian bagi seorang ayah yang sedang merindukan anaknya, belahan jiwanya. Anak yang ia besarkan dengan segenap cinta. Anak yang kehadirannya membuat seorang ayah rela membanting tulang mencari nafkah siang dan malam. Sayangnya saat itu saya tidak menyadarinya. Saya bahkan mengatakan belum bisa segera pulang karena alasan pekerjaan. Sebuah keputusan yang kemudian menjelma menjadi tangis penyesalan, yang terkadang tanpa sadar membuat saya bergumam, “Andai waktu bisa diputar ulang .…”

Tawaran menulis buku berjudul Kisah-Kisah Birrul Walidain Yang Melegenda ini datang dari editor Tiga Serangkai, Mas Hari. Sesaat sempat terlintas rasa ragu untuk menerima tawaran itu. Pantaskah saya menulisnya? Mengingat betapa bakti saya kepada orang tua belumlah seberapa. Menyadari betapa saya belum pandai menyenangkan hati Ayah dan Ibu, masih sering enggan memenuhi pinta keduanya untuk melakukan ini dan itu. Masih jarang meluangkan waktu untuk sekadar bertanya kabar atau mendengarkan cerita mereka.

Namun, saya sadar. Bahwa menuliskan kisah birrul walidain bukanlah tentang pantas atau tidak, melainkan tentang memberikan hikmah dan pembelajaran kepada generasi kemudian. Agar siapapun yang membaca buku ini, tersadar hatinya untuk lebih meningkatkan bakti. Semakin cinta, semakin hormat, semakin patuh, dan semakin sayang kepada kedua orang tua. Oleh karenanya, saya pun setuju untuk menulis buku tentang birrul walidain ini.

Birulwalidain

Buku ini berisi kumpulan kisah bakti orang-orang shalih terdahulu kepada orang tuanya. Ada kisah bakti Rasulullah kepada orang tua yang telah tiada, serta orang-orang yang berjasa mengasuh dan membela dakwah beliau. Ada kisah ulama terpandang, namun tetap mau memenuhi perintah ibunya untuk memberi makan hewan peliharaan. Ada pula kisah orang shalih yang selalu meluangkan waktu untuk menyisir rambut ibunya. Kisah-kisah di dalam buku ini diharapkan dapat lebih menumbuhkan rasa cinta kepada orang tua, sosok yang kita wajib mencurahkan bakti bahkan setelah mereka tiada.

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penerbitan buku ini. Kepada penata letak dan desain sampul, ilustrator, proof reader, serta Mas Hari, editor baik hati yang telah memercayai saya menulis buku ini. Terima kasih juga saya ucapkan kepada tim marketing Tiga Serangkai, para pahlawan hebat yang membuat buku ini sampai kepada pembacanya. Lalu, kepada Allah Azza wa Jalla saja, rasa syukur ini sudah sepatutnya bermuara. [Izzah Annisa]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Tiga Serangkai