Buku Aktivitas yang Berbeda

Siap Masuk SDSejujurnya saya adalah orang tua yang tidak terlalu suka dengan lembar kerja. Kenapa? Menurut saya lembar kerja itu membosankan. Praktik langsung itu lebih asyik.

Sampai akhirnya anak sulung saya sendiri mulai keranjingan buku aktivitas.  Saya pun belajar bahwa rupanya anak bisa saja memiliki preferensi mereka sendiri.

 My new journey then started. 

Tadinya saya hanya membelikan majalah anak yang terbit mingguan dan bulanan. Ketika majalah itu selesai dilahap dalam setengah jam,  saya mulai membelikan buku aktivitas yang tipis. Ternyata buku itu hanya bertahan sehari. Saya pun beralih ke buku aktivitas yang tebal.  Kali ini bisa bertahan selama sebulan. Lumayan.

Jadi ketika Tiga Ananda melalui Mas Didit mengajak saya untuk mengerjakan buku aktivitas,  saya langsung setuju. Pertama, target usia pembaca sama dengan usia anak saya.  Saya anggap ini hadiah untuk dia. Kedua,  saya ingin menantang diri sendiri.  Selain ngomel kalau sedang hunting buku aktivitas, bisakah saya membuat buku seperti yang saya inginkan? Yang tidak sekali pakai lalu buang?  Yang tidak membuat anak harus terus duduk selama mengerjakan?—Karena saya melihat sendiri anak saya yang memang tidak bisa anteng. Ia sering mengerjakan buku dengan berbagai pose ajaib. Yang tidak melulu berisi soal hitungan yang membosankan? Hellooo konsep matematika itu luas sekali.

Siap Masuk SD

Contoh Isi Buku

Sebelum mulai membuat,  saya melakukan riset sederhana. Dimulai dari rak buku anak saya hingga rak toko buku. Sudah ada ribuan buku aktivitas beredar.  Mine clearly can't be the first. Untuk jadi yang terbaik pun rasanya ngaluk-ngaluk. But, I can be DIFFERENT.

Siap Masuk SD

Ada bordgame untuk dimainkan

Saya membaca beberapa buku aktivitas dan menganalisis kekuatan dan kelemahan buku tersebut (berdasarkan standar saya dan pengalaman anak saya ketika mengerjakan). Hasilnya saya diskusikan dengan editor. Setelah diskusi panjang, kami pun membuat keputusan.  Setelah itu,  saya minta izin pada penerbit  untuk melakukan field test. Editor dan saya memilih beberapa worksheet dari buku satu hingga buku tiga. Lalu, saya meminta beberapa anak dengan usia,  kota tinggal,  dan tipe sekolah yang beragam untuk menjadi peserta field test. Respons dari mereka,  kami jadikan acuan untuk merevisi buku. Diskusi masih terus terjadi sampai bahkan ketika buku  hendak dicetak. Meski seringnya berlangsung alot (haha),  tapi saya beruntung diberi editor nan sabar dan ngemong.

Berapa lama proses pembuatan Seri Siap Masuk SD bersama Piko dari mulai brainstorm ide hingga terbit?  14 bulan. Such a looong way.  But it is worth it. Coba deh cari di toko buku dan lihat sendiri mengapa buku ini layak dibeli.

Tyas

A mom, a teacher and a difficult-to-pleased-buyer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*