Pelajar-Pelajar Pejuang: Memotivasi Pelajar agar Selalu Semangat Bersekolah di Tengah Keterbatasan

Pelajar-Pelajar PejuangBuku ini saya tulis memang awalnya terinspirasi dari novel saya yang berjudul Anak-Anak Seberang Sungai yang memenangkan lomba pengayaan bahan ajar tingkat Jawa Tengah 2017 yang diadakan Balai Bahasa Jawa Tengah. Novel tersebut menceritakan perjuangan  anak-anak di seberang Sungai Serayu yang menaiki perahu, bahkan rakit batang pisang saat sungai meluap, menjelang Ujian Nasional.

Selanjutnya, saya berpikir untuk membuat cerita-cerita tentang perjuangan para pelajar dalam menempuh pendidikannya di seluruh Indonesia. Banyak anak di Indonesia yang berada dalam keterbatasan, tapi tetap bersemangat belajar. Saya ingin membuat cerita yang dapatr menginspirasi semua pelajar agar tetap berjuang demi masa depannya.

Setelah diskusi dengan editor saya yang baik hati, yaitu Mas Dhita Kurniawan, maka lahirlah buku ini. Formatnya juga bukan dalam bentuk novel, tetapi berupa kumpulan cerita pendek. Berikut isi buku ini:

  1. Berjalan Melalui Padang Rumput

Bagi Gorys padang rumput seluas 3 km² adalah jalan yang harus dilalui setiap pagi saat berangkat sekolah selepas fajar, setelah dia melalui jalan desa berdebu sepanjang 1 km. Satu hari dia berjalan tergesa sambil berlari melalui padang rumput itu karena harus bertugas sebagai komandan upacara, hingga tidak melihat adanya batu. Ia lalu terantuk sampai terguling. Hal ini membuat sepatunya yang sudah tua menjadi jebol menganga di bagian ujungnya. Temannya lalu merelakan karet pengikat pensilnya untuk menjadi pengikat sepatu Gorys.
Saat sampai di sekolah, temannya itu lalu mengusulkan bertukar sepatu agar Gorys dapat memimpin upacara dengan gagah tanpa perlu malu karena sepatunya jebol.

Saat mereka bertukar sepatu lagi di bawah pohon mangga saat istirahat, Pak Umang, penjaga sekolah, menawari untuk memperbaiki sol sepatu Gorys. Pekerjaan sambilan Pak Umang  adalah sebagai tukang sol sepatu. Dia tidak menarik biaya jika yang minta diperbaiki adalah anak sekolah. Setiap minggu pasti ada anak yang sepatunya jebol mengingat kondisi medan berat yang hrs dilalui. Pak Umang dengan sukarela memperbaikinya. Gorys gembira karena sepatunya sudah dijahit lagi.

Dia dan temannya lalu menempuh perjalanan pulang kembali melalui padang rumput dengan gembira. Mereka adalah anak-anak padang rumput yang tegar menatap masa depan.

  1. Para Pendaki Bukit

Uleng dan Upe tinggal di dusun yang sama, yaitu di sebuah lembah yang dikelilingi oleh tebing perbukitan.Hanya ada 50 kepala keluarga yang berdiam di lembah itu. Sekolah dasar terdekat ada di balik kaki bukit. Oleh karena itu setiap hari mereka harus memanjat dan menuruni bukit yang terjal untuk bersekolah. Untuk memudahkan perjalanan, warga membuat undak-undakan dari tanah untuk memanjat bukit dan menuruni bukit. Permasalahannya saat hujan turun, undak-undakan tersebut menjadi licin sehingga mereka harus berhati-hati saat melaluinya. Walaupun medan yang harus dilalui untuk ke sekolah penuh tantangan, Uleng dan Upe selalu bersemangat berangkat sekolah.

Suatu hari saat menuruni bukit, Uleng terpeleset karena kaget melihat ada kadal yang melintas. Untung Upe dengan sigap menyambar lengan Uleng dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya menyambar rumpun perdu yang ada di pinggir undak-undakan. Dia berusaha sekuat tenaga menahan agar mereka tidak sampai terguling ke bawah. Upe sampai jatuh terduduk dalam usaha kerasnya. Upe yang juga jatuh terduduk berusaha menggapai rumpun perdu di sebelahnya. Akibatnya seragam mereka menjadi kotor oleh tanah serta paha mereka lecet-lecet. Walaupun demikian mereka tetap meneruskan perjalanan menuju sekolah.

Sampai di sekolah mereka dipinjami oleh Bu Welang, ibu guru mereka, baju seragam cadangan yang ada di UKS. Apakah kejadian itu menyurutkan semangat mereka? Oho tidak, Uleng dan Upe bertekad akan terus menimba ilmu walau berat perjalanan yang harus mereka tempuh.

  1. Menembus Hutan, Kami Tidak Takut

Cenning dan Kakaknya, Ambo, harus menembus hutan setiap akan berangkat sekolah. Sebenarnya kalau disuruh memilih, mereka ingin berangkat sekolah melewati jalan lain. Tapi bagaimana lagi, di dusun kecil mereka yang terletak di tepi hutan belum ada sekolah dasar. Oleh karena itu, mereka harus melintasi hutan seluas tiga kilometer  persegi untuk menuju sekolah yang terletak di tepi seberangnya.

Suatu hari saat melintasi hutan mereka bertemu dengan seekor ular. Besar seperti jempol kaki dengan panjang sekitar satu meter melintas dengan santai di jalan setapak. Lidahnya yang bercabang terlihat menjulur-julur ke depan. Jarak mereka dengan ular sekitar dua meter. Untung tadi Ambo waspada sehingga sempat melihat seekor ular yang turun dari pohon dan akan melintas jalan. Ular itu menggeleser dengan cepat dan hilang diantara pepohonan. Mereka menunggu sejenak untuk memastikan ular tersebut tidak kembali.

Pelajar-Pelajar Pejuang

“Bismillah … ayo, jalan lagi,” kata Ambo sambil menggandeng adiknya. Wajah Cenning pucat. Dia sungguh ketakutan. Sambil memanjatkan doa-doa keselamatan, mereka melanjutkan perjalanan. Di tengah hutan ada sebuah ladang milik orang tua temannya, Eja. Setiap hari mereka menjemput Eja untuk berangkat sekolah bersama. Cenning dan Eja duduk sekelas di kelas dua.  Sambil berangkat, mereka mengumpulkan bunga-bunga pinus yang banyak berjatuhan. Pulang sekolah Cenning dan Eja membantu Bu Tenri membuat kerajinan bunga kering, sambil menunggu Ambo yang duduk di kelas 4 pulang. Mereka selalu pulang bersama-sama. Mereka bahagia menjadi anak-anak pelintas hutan. Apa pun hambatan yang harus mereka hadapi menuju sekolah, mereka bertekad untuk tetap semangat menempuh pendidikan.

  1. Para Ksatria Peniti Tali

Cecep, Dadang, Didin, dan Heru harus meniti tali baja saat melintasi sungai menuju sekolah. Tali itu adalah sisa dari jembatan yang sudah rusak di bagian tengah. Belum ada perbaikan atas jembatan yang sudah rusak tersebut. “Let’s Go!” seru Heru riang. Dia yang pertama melangkah ke titian tali. Kakinya berpijak pada tali di bawah, kemudian tangannya meraih tali yang ada di atas. Perlahan dia bergerak menyamping menyeberangi sungai. Selanjutnya, Didin mengikuti bergerak menyeberangi sungai. Cecep mengikatkan selendang ibunya ke tubuhnya, sedang ujung yang satunya diikatkan ke badan adiknya, Dadang.  Dengan demikian adiknya tidak merasa sendirian saat meniti tali, sekaligus dia menjaga kalau ada apa-apa dengan adiknya itu.

Mereka berhasil melintasi sungai dengan selamat. Saat di sekolah, ketika pelajaran Bahasa Indonesia Cecep menuliskan sebuah puisi yang berisi keinginannya agar dibangun jembatan di atas sungai. Kondisi lingkungan yang terbatas tidak membuatnya gentar. Dia akan selalu rajin ke sekolah, walau setiap hari meniti tali. Dia ingin meniti cita-citanya setinggi langit.

  1. Berjalan di Dalam Rawa

Unru dan Sompa setiap hari harus berbekal garam ketika pergi sekolah karena mereka harus melewati rawa yang penuh dengan pacet di dalamnya. Pacet akan lepas apabila ditetesi air garam. Selain garam, mereka juga harus membawa tongkat bambu. Berjalan tanpa tongkat di tengah rawa akan sangat sulit karena tanahnya berlumpur dan lengket di bawah kaki mereka.  Dengan bantuan tongkat, mereka dapat berpegangan sehingga memperkecil kemungkinan tercebur ke dalam rawa. Mereka berangkat sekolah bersama dengan teman mereka, Tinro. Walau menempuh medan sulit, mereka selalu bergembira, bahkan membuat tantangan adu cepat melewati rawa.

Di ujung rawa ada sebuah rumah kecil milik Kek Tuo. Di sana mereka mencuci kaki yang lengket oleh rawa, serta memakai baju dan sepatu sekolahnya. Kek Tuo yang baik setiap hari menyediakan jajanan sederhana,  seperti singkong rebus, sebagai hadiah bagi anak-anak pelintas rawa. Anak-anak pelintas rawa itu tidak pernah mengeluh . Mereka menerima kondisi lingkungannya dengan ikhlas  dan tekad kuat untuk selalu semangat bersekolah.

  1. Selamat Datang di Sekolah Kami, Bu Guru

Sinusir, Muhalid, dan Rajuni ahli mendayung jukung melintasi lautan. Hal itu mereka lakukan setiap hari saat berangkat sekolah. Sekolah berada di pulau yang jauh dari pulau tempat rumah mereka. Untuk menjangkaunya, hanya dapat dengan menaiki jukung atau perahu. Sekolah mereka hanya mempunyai seorang guru, yaitu Bapak Andi. Untuk membantu mengajar murid-murid yang kecil, murid yang berada di kelas atas diminta mengajar adik kelasnya. Sudah berkali-kali ada informasi kalau akan datang guru baru. Mereka sudah sering bersiap menyambut di pinggir dermaga. Tapi ternyata guru baru tersebut tidak kunjung datang.

Kali ini Pak Andi memberi tahu lagi kalau guru baru akan datang. Beberapa anak menanggapi dengan sinis berita tersebut. Cukup lama mereka harus menunggu. Rajuni berkali-kali mengomel. Muhalid juga menjadi ragu. Dia menatap Pak Andi dengan risau. Muhalid merasa kasihan padanya. Bagaimana kalau kali ini guru itu juga tidak datang?Ternyata kali ini guru baru sungguhan datang. Seorang ibu guru cantik yang juga ternyata calon istri Pak Andi. Dia mengajak calon istrinya untuk ikut mengabdi di pulau tersebut. Setelah kedatangan Bu Anita, mereka menjadi lebih semangat bersekolah. Anak-anak  berlomba ingin membawakan sesuatu untuk Bu Anita. Bahkan ada yang punyai niat ingin membawakan Bu Anita ikan hasil tangkapan ayahnya! Mereka berharap dengan kehadiran guru baru tersebut, mereka dapat memperoleh ilmu lebih baik..

  1. Sekolahku di Seberang Sungai

Bagi Siti mengarungi sungai adalah rutinitas sehari-hari yang harus dilalui untuk menuju sekolah. Ada 7 orang anak yang melakukan hal yang sama. Mereka bersama-sama berjalan mengarungi sungai selebar 20 meter. Hati-hati kaki Siti mencari pijakan di dasar sungai. Dia dan teman-temannya  sudah hafal bagian dasar sungai yang dangkal. Biasanya di dasar ada tonjolan batu-batuannya. Kedalaman sungai bagian ini hanya 1 meteran, sementara bagian lain bisa 1.5-2 meter. Setelah mengarungi sungai, perjalanan mereka belum berakhir. Setelah itu mereka harus melewati pematang sawah yang luas. Di ujung pematang itulah gedung sekolah mereka berdiri.

Saat pulang sekolah sehabis menempuh ujian, air sungai meluap. Siti hanyut terbawa oleh banjir. Terlihat air mengalir sangat deras berbual-bual. Rupanya hujan deras di hulu sungai tadi pagi menyebabkan banjir dan membuat air sungai meluap. Untunglah Ani berhasil diselamatkan. Setelah kejadian tersebut Bapak lalu mengantar Siti ke sekolah dengan menaiki rakit bambunya.

  1. Penarik Becak Pelangi

Nita ikut ibu ke pasar. Mereka pulangnya menaiki sebuah becak langganan. Di dalam becak Nita mengeluh dan mengutarakan niat ingin ikut les mahal agar nilai-nilainya bisa menyaingi Panji, anak terpandai di kelasnya. Nita beranggapan kalau Panji pasti mengikuti les mahal sehingga bisa meraih nilai tertinggi. Tapi, ibu tidak menyanggupi karena keadaan mereka yang pas-pasan.

Betapa terkejutnya Nita setelah turun dari becak ternyata penarik becaknya adalah Panji yang tadi dibicarakannya. Panji menggantikan bapaknya yang sakit untuk menarik becak. Nita akhirnya sadar bahwa nilai tinggi itu berkat tekun dan rajin belajar, bukan semata les yang mahal.

  1. Pelajaran dari Teman Baru

Gara-gara kurang hati-hati saat naik sepeda ketika pulang sekolah, Shifa sekarang harus berbaring di rumah sakit.  Parahnya lagi, karena  terjatuh dari sepeda, pergelangan tangan kanannya retak dan harus digips. Padahal Shifa punya hoby melukis dan ingin mengikuti kejuaraan melukis di kantor walikota. Hal ini membuatnya uring-uringan saat harus dirawat di rumah sakit. Dia merasa paling malang di dunia.

Suster Dewi lalu mengenalkannya dengan keponakannya, Lala, yang katanya juga senang melukis. Tadinya Shifa ogah-ogahan menyambut Lala. Tapi betapa terkejutnya dia karena ternyata Lala adalah seorang gadis yang tetap ceria walaupun tidak memiliki kedua tangan. Lala bahkan pandai melukis dengan kakinya. Shifa menjadi sangat termotivasi, dia lebih bersyukur atas segala nikmatNya. Mulai sekarang Shifa  menjadi  semangat belajar dan  menjalani hidup dengan lebih gembira. Apa pun kondisi yang harus dia hadapi.

  1. Semangat Belajar di Tengah Musibah

Tanpa diduga Kadek hadir di sekolah saat ujian berlangsung. Padahal saat itu dia sedang dalam  pengungsian akibat bencana yang menimpa keluarganya. Sebenarnya sekolah sudah mengizinkan Kadek untuk mengikuti ujian susulan setelah kondisinya membaik, tapi Kadek dengan motivasinya yang tinggi berniat mengikuti ujian bersama dengan teman-temannya. Teman-temannya kemudian dengan sukarela mengumpulkan uang sakunya untuk membantu Kadek. Hasil sumbangan itu kemudian diberikan oleh sekolah kepada Kadek .

Demikian tadi ringkasan cerita dari Pelajar-pelajar Pejuang, semoga dapat menginspirasi dan memotivasi anak-anak sekolah di seluruh Indonesia untuk tetap rajin belajar apapun kondisi sulit yang harus mereka hadapi.  (Dyah Umi Purnama)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Tiga Serangkai