Dari Sinilah, Buku ‘Temanku Istimewa’ Bermula

Temanku IstimewaSaya tidak begitu memahami dunia anak berkebutuhan khusus (ABK). Sesekali membaca artikel tentang ABK di majalah, koran, dan media online. Di lingkungan tempat tinggal saya pun, jarang ditemui ABK. Namun, saya mulai tergugah ketika menyimak cerita adik saya yang mendapat kesempatan berinteraksi dengan anak-anak tuna rungu di sebuah sekolah inklusi. Dengan excited, ia menceritakan pengalamannya yang menakjubkan dengan mereka. Beruntung ia bisa menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan mereka. Yang membuat salut, mereka adalah pribadi-pribadi yang pantang menyerah. Bahkan, banyak yang memiliki bakat tertentu seperti melukis, merias wajah, dan modelling. Mengenal mereka—kata adik saya—adalah inspirasi, motivasi, dan pemupuk rasa syukur bagi kita yang sempurna secara fisik.

Kemudian, kisah tentang salah satu tuna rungu luar biasa itu sempat saya tulis dalam buku harian. Bahwa kisah orang lain juga merupakan guru terbaik, benar adanya. Kelak, jika saya membaca ulang atau anak-anak saya membacanya, mereka akan mendapat hikmah dari coretan sederhana saya.

Hingga tahun berlalu secepat embusan angin, anak-anak saya tumbuh semakin besar. Mereka mulai mempertanyakan tentang apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan.

“Mi, kenapa sih kakak itu pakai kursi roda?” bisiknya lirih.

“Yang nempel di telinga adik itu, alat apa sih, Mi?”

“Al qur’an braille itu kayak apa? Aku pengen lihat.”

Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Mereka ‘menodong’ saya dengan pertanyaan sederhana tapi membutuhkan penjelasan yang rumit. Mereka membuat ibunya yang fakir ilmu ini, harus terus belajar dari berbagai sumber bahkan kalau memungkinkan, bertanya langsung pada ahlinya.

Alhamdulillah, selama beberapa tahun terjun di dunia literasi, saya sering ngobrol dengan sesama penulis. Salah satunya adalah Mbak Wahyu Widyaningrum. Tema obrolannya tidak jauh-jauh dari naskah, blog, lomba menulis, serta projek atau ide baru yang bisa digunakan sebagai bahan tulisan. Saat itu saya sedang free alias belum mulai menggarap naskah baru. Gayung pun bersambut. Dari obrolan seru tentang buku anak, tercetus ide dari mbak Wahyu untuk menulis naskah bertema ABK. Memang sepertinya belum banyak buku anak tentang hal itu. Ah, betapa berharganya sebuah ide. Ide serupa harta karun penulis yang harus digali untuk menemukan kilaunya.

Akhirnya, dalam waktu singkat, tercapailah mufakat: kami akan menulis duet buku anak bertema ABK dalam bentuk cerita bergambar (pictbook). Ini projek kolaborasi kami yang ketiga.

Kami langsung membuat draft kasar, mematangkan konsep, serta pembagian tugas menulis beserta dateline. Outline naskah ditulis oleh kami masing-masing. Inilah keuntungan menulis duet. Lebih bersemangat, ada teman sharing, dan tentu pekewuh ya kalau tidak mematuhi DL yang sudah disepakati berdua. Hihi.

Awalnya saya yang minim pengalaman terkait ABK ini, menemui banyak kesulitan. meskipun konsep naskahnya adalah buku bergambar yang dominan gambar dan minim tulisan, saya tidak boleh asal menulis. Tantangan menulis buku bergambar adalah menyampaikan pesan dengan bahasa sesederhana mungkin, tetapi bisa dipahami oleh anak usia 3-6 tahun. Tentu saja tanpa membuat kening mereka berkerut. Saya mencari referensi dari buku, artikel, dan video. Pun bertanya kepada teman dan saudara yang punya pengalaman berinteraksi dengan ABK. Hal itu sangat membantu saya dalam mengembangkan tulisan.

Alhamdulillah akhirnya setelah satu setengah bulan berlalu, naskah kami sudah jadi. Sudah melalui tahap self-editing, review silang bareng Mbak Wahyu, menyatukan dan melengkapi naskah lalu siap kirim. Ah, leganyaa. Setelah merampungkan naskah, saya selalu memberi hadiah pada diri sendiri dengan membeli buku atau makanan kesukaan. ^^

Namun, perjalanan sebuah naskah dalam menemukan jodoh tidaklah sama. Ada yang mulus bak jalan tol. Adapula yang berliku, terjal, penuh belukar serupa mendaki gunung. Penantian kami selama 3 bulan, berujung pada penolakan. Kecewa dan sedih pasti. Akan tetapi, itu hanya di menit-menit awal saja. Selanjutnya, kami sudah bisa tertawa-tawa lagi, dan berjuang lagi mengirimkan ke penerbit lain. Prosedur itu berhasil diulang selama enam kali alias telah ditolak 6 penerbit. Hehe. Alhamdulillah kami sudah kebal dengan berbagai penolakan. Bagi kami, penolakan berarti telah menempuh langkah demi langkah untuk maju. Setidaknya lebih baik pernah mencoba dan gagal, daripada yang tidak pernah gagal tetapi belum pernah mencoba. Sebab, kami ingin belajar dari kegagalan.

Saya ingat baik-baik petuah seorang penulis senior, bahwa naskah ditolak itu belum tentu naskah yang buruk. Bisa jadi penerbit sedang tidak membutuhkan naskah tersebut. Bisa jadi penerbit pernah menerbitkan naskah yang mirip dengan naskah kita sebelumnya, dan masih ada faktor lain.

Saya dan mbak Wahyu memilih mendiamkan naskah itu beberapa bulan. Biar cooling down dulu. Ya penulisnya, ya naskahnya. Rehat sejenak sambil introspeksi, ada apa dengan naskah kami? Oh ternyata memang kurang ‘dalam’ dan kurang terasa ‘feel’ nya saat dibaca. Mungkin kurang tepat disajikan dalam bentuk cergam. Jika ada waktu nanti, kami akan merevisinya bersama-sama.

Pucuk dicinta ulampun tiba.

Setelah bulan demi bulan berlalu hingga naskah itu nyaris terlupakan, ada sebuah status dari Mbak Dina, seorang editor penerbit Tiga Serangkai. Dalam statusnya, beliau menulis bahwa penerbit sedang mencari naskah anak bertema ABK. Urgently needed.

Saya langsung inbox Mbak Dina terkait syarat dan ketentuan. Ternyata itu untuk proyek pemerintah. Prosedurnya adalah mengirim naskah lengkap dengan ilustrasinya. Olala, itu artinya  saya dan Mbak Wahyu harus mencari ilustrator yang bersedia menyelesaikan ilustrasi dalam tenggat waktu 2 minggu. Setelah berburu ilustrator, kami berembug lagi. Ternyata kocek kami belum memungkinkan untuk ikut dalam proyek ini. Lagipula kemungkinan diterima dan ditolak adalah fifty-fifty. Ya, kami memilih mundur. Mungkin memang belum rezeki kami.

Akhirnya, sesuai saran mbak Dina, kami mengirimkan naskah reguler ke penerbit Tiga Serangkai.

Tidak ada sepekan, balasan email datang. Mengabarkan bahwa naskah kami diterima dengan catatan harus diubah dari cergam ke dalam bentuk cerpen sepanjang 4 halaman. Deadline pengerjaan hanya satu minggu. Ada delapan cerita dalam naskah itu yang harus dirombak. Akhirnya kami berjuang lagi. Di hari ketiga, saya tumbang karena kelelahan. Alhamdulillah sebelum deadline berakhir, ‘hutang’ kami kepada Mbak Yenni, editor naskah kami, sudah kami lunasi.

Rasanya plong sekali. Hmm, seperti berhasil mengeluarkan duri ikan dari kerongkongan. Atau bahkan berasa seperti habis melahirkan. 😀

Alhamdulillah prosesnya berjalan lancar. Dalam waktu beberapa bulan setelah ACC itu, kami sudah bisa menimang bukunya, membuka segel plastiknya, lalu menghirup aroma khas yang menguar, sembari tak henti mencurahkan syukur. Ya, betapa panjang sebuah naskah untuk menjadi buku. Berawal dari ide mentah, mengolahnya, mencari referensi, bertanya ke sana-kemari, menuliskannya, mengeditnya, hingga mengirimkannya dengan dada penuh debar. Setelah ACC, bisa jadi masih harus revisi sampai bagus dan layak terbit. Daan dapur penerbit juga tak kalah sibuk. Editing, lay out, mendesain kover, proofreading, antre cetak, dan lain-lain hingga buku bisa keluar dari mesin cetak dan siap didistribusikan. Benar-benar sinergi yang solid dari berbagi pihak. Semua memiliki peran penting. Sebuah buku, tak hanya karya penulis. Ia adalah karya bersama yang harus diapresiasi.

Temanku Istimewa

Setiap tulisan, melewati proses panjang. Tidak ada yang instan. Dari sanalah, kesabaran dan pantang menyerah ditempa. Terhitung kami menulis naskah ‘Temanku Istimewa’ tahun 2017. Tahun 2019 ini, kami sudah bisa memeluknya dengan sepenuh cinta. Kabar baiknya, kami juga mendapat informasi dari Mbak Yenni kalau naskah ‘Temanku Istimewa’ ini juga lulus penilaian proyek pemerintah. Alhamdulillah.

Semoga tulisan sederhana kami ini bisa menebar manfaat dan keberkahan untuk pembaca  dimanapun berada. Teriring doa, semoga setiap ketik aksara yang terlahir dari tangan kami adalah untuk mendapat ridho-Nya. Aamiin yaa robbal alamiin.

Maka percayalah, bahwa buku adalah warisan peradaban.

 

Salam keajaiban menulis,

Arinda Shafa

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*