Proses Pembuatan Alat-Alat Tulis dalam Cerita Anak

Teman-teman, kalian pasti mengenalku. Aku adalah Si Bolpoin. Agar kalian mengenalku lebih dekat, akan kuceritakan pada kalian bagaimana aku dibuat.

Itu adalah salah satu penggalan dari cerita Corat-coret Si Bolpoin. Lima buku cerita Seri Bagaimana Aku Dibuat adalah buku-buku yang berisikan proses pembuatan alat-alat tulis yang dikemas dengan cerita khas anak-anak.

Tahapan menulis, ilustrasi, layout, sampai cetak Seri Bagaimana Aku Dibuat memakan waktu sekitar 17 bulan. Itu dimulai sekitar awal bulan sebelas tahun 2018.

Mbak Yenni, salah satu editor Tiga Ananda menghubungiku kala itu. Beliau punya konsep cerita tentang alat-alat tulis. Waw … konsep yang bagus, pikirku.

Meski rada sulit karena memang butuh riset banyak, dengan semangat kubilang siap mengeksekusi konsep bagus ini dalam sebuah naskah.

Setelah menerima konsep tersebut saya pun langsung riset. Ett … tunggu dulu, mau riset ke pabriknya langsung tentu akan sulit bagi saya. Pabriknya ada di mana dan saya tinggal di mana. Kalau pun ada di Tangerang, domisili saya, untuk menembus masuk ke dalam pabrik bukan perkara mudah kalau tidak punya kenalan.

Untung saya punya teman yang bekerja di pabrik plastik. Cara pembuatan plastik mirip dengan pembuatan bolpoin. Lumayan, saya bisa bertanya-tanya. Ditambah lagi saya banyak melihat youtube karya anak bangsa dan luar negeri [dari informasi Mbak Yenni] serta googling sana-sini. Akhirnya, saya mendapat banyak informasi mengenai proses pembuatan alat tulis tersebut dalam waktu singkat.

Saya perhatikan dan amati langkah-langkah pembuatannya, apa saja bahan-bahan yang dipakai, dan berapa lama pembuatannya. Ya, dari proses awal sampai pengemasannya mulai saya tuangkan ke dalam tulisan versi saya tentunya.

Pertengahan bulan sebelas kukirim 10 cerita, masing-masing dibagi lima. Satu tokoh ceritanya manusia yang berperan menceritakan dan menunjukkan bagaimana alat-alat itu dibuat. Dan satunya lagi, tokohnya alat tulis itu sendiri. Kubuat dua opsi agar Mbak Yenni bisa memilih tokoh yang mana.

Ternyata, Mbak Yenni ambil pilihan kedua yaitu tokohnya alat tulis itu sendiri. Alhamdulilah. Selang beberapa hari, beliau minta dicarikan seorang ahli untuk me-review naskah tersebut. Apakah cocok dengan anak-anak. Apakah mesin-mesin dan alat-alat yang digunakan aman untuk diperkenalkan kepada anak-anak.

Sempat kalang-kabut juga mencari konsultan ahli yang tahu seluk-beluk cara memproduksi alat-alat tulis [pensil hitam, pensil warna, bolpoin, buku, dan penghapus]. Karena saya tidak mempunyai kenalan ahli dalam bidang tersebut.

Lalu, Mbak Yenni menyarankan untuk mencari dosen teknik. Saya sempat woro-woro di Facebook dan Whatsapp tapi belum menemukan sosok yang tepat. Akhirnya, saya menghubungi seorang teman lama dan ia memberi saran untuk menghubungi teman kerja kami dahulu yang kuliah di teknik industri. Singkat cerita, saya pun dikenalkan dengan Bu Dosen Teknik.

Alhamdulillah, satu doaku terjawab lagi. Bu Dosen, Eka Indah Yuslistyari, bersedia me-review lima naskah saya tersebut.

Setelah naskah selesai di-review dan saya kirim lagi, sempat berbulan-bulan saya baru dihubungi Mbak Yenni. Ternyata naskah-naskah tadi butuh revisi lagi agar lebih mengena kepada anak-anak nantinya. Baiklah dengan senang hati, saya siap mengerjakannya.

Tahap selanjutnya masuk ke ilustrasi. Ini harus benar-benar teliti. Gambarnya harus sesuai dengan mesin-mesin yang ada. Hampir tiap hari selama pengerjaan ilustrasi dan pewarnaan, saya dan Mbak Yenni berdiskusi dan me-review untuk kemudian diajukan lagi ke ilustrator.

Sampai awal bulan Desember saya dan Mbak Yenni masih terus melakukan pengecekan akhir sebelum dicetak. Mulai dari cek naskah ceritanya, bentuk mesin dan warna gambarnya apakah sudah sesuai, sampai memeriksa referensi lagi dan lagi.

Akhirnya, bulan tiga, lima judul naskah pic book Seri Bagaimana Aku Dibuat dicetak. Horee … dan awal bulan lima, bukti terbit pun sampai ke rumah. Masyaallah covernya lucu dan unyu sekali. Begitu juga dengan gambar di dalamnya. Meski didominasi oleh gambar mesin, tapi tetap bersahabat untuk anak-anak.

Besar harapan saya dan penerbit buku ini bisa jadi bahan belajar anak-anak dan orang dewasa tentang bagaimana proses pembuatan alat-alat tulis. Tersirat juga pesan jika sudah tahu prosesnya, kita dapat menghargai alat-alat tersebut dan memakainya sesuai kebutuhan saja.

Buah pepaya dan buah duku

Tumbuhnya subur di pinggir hutan

Ayolah kita membaca buku

Agar tambah ilmu pengetahuan

Salam, Liza Erfiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Tiga Serangkai