Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan keterampilan berpikir kritis, pemahaman konsep secara utuh, kemampuan memecahkan masalah, serta penerapan pengetahuan dalam konteks nyata. Program pelatihan Pendidikan Merdeka (PM) telah membekali banyak guru dengan kompetensi untuk menerapkan model pembelajaran ini.
Namun, dalam praktiknya, guru yang sudah mengikuti pelatihan masih menghadapi berbagai tantanganโbaik internal maupun eksternal. Tantangan tersebut dapat memengaruhi kualitas implementasi dan keberlanjutan pembelajaran mendalam di sekolah.
Artikel ini merangkum berbagai tantangan yang dapat diamati oleh rekan sejawat terhadap guru alumni pelatihan PM di sekolah.
๐ 1. Tantangan Internal (Bersumber dari Guru)
a. Kesulitan Mengubah Mindset dan Kebiasaan Mengajar Lama
Banyak guru telah terbiasa dengan metode ceramah, penjelasan sepihak, dan pembelajaran berorientasi hasil akhir.
Pembelajaran mendalam menuntut:
- Peran guru sebagai fasilitator
- Pembelajaran aktif
- Proyek dan diskusi mendalam
- Fleksibilitas dalam mengelola kelas
๐ Peralihan pola pikir ini membutuhkan waktu, keberanian, dan konsistensi.
b. Kesulitan Merancang Aktivitas Berbasis Inkuiri atau Proyek
Pembelajaran mendalam memerlukan:
- Pertanyaan esensial yang kuat
- Aktivitas kolaboratif
- Skenario pembelajaran yang menantang
Banyak guru masih bingung menyusun alur pembelajaran yang mendalam, runtut, dan terukur.
c. Manajemen Waktu dalam Pembelajaran
Pembelajaran mendalam membutuhkan waktu lebih lama dibanding ceramah.
Guru sering menghadapi tantangan seperti:
- Banyaknya materi yang harus diselesaikan
- Durasi jam pelajaran terbatas
- Aktivitas siswa yang membutuhkan pendampingan lebih
๐ฏ Guru kesulitan menyeimbangkan kedalaman belajar dan target kurikulum.
d. Penguasaan Teknologi yang Belum Optimal
Pembelajaran mendalam sering melibatkan:
- Teknologi presentasi
- Literasi digital
- Kolaborasi daring
- Media pembelajaran interaktif
Tidak semua guru merasa percaya diri menggunakan teknologi tersebut secara efektif.
e. Variasi Kemampuan Siswa dalam Berpikir Mendalam
Siswa memiliki kecepatan dan kemampuan belajar yang beragam.
Guru menghadapi kendala:
- Siswa yang masih pasif
- Siswa kesulitan berpikir kritis
- Siswa belum terbiasa berdiskusi atau menyampaikan pendapat
- Kelompok belajar yang tidak berjalan seimbang
๐ 2. Tantangan Eksternal (Lingkungan Sekolah dan Sistem)
a. Budaya Sekolah yang Masih Berorientasi Nilai Angka
Pembelajaran mendalam menekankan proses, bukan hanya hasil.
Namun banyak sekolah dan orang tua masih fokus pada:
- Nilai ujian
- Rangking kelas
- Kecepatan menyelesaikan materi
๐ Hal ini membuat guru tertekan dan enggan menerapkan pembelajaran mendalam.
b. Fasilitas dan Sarana Pembelajaran yang Terbatas
Pembelajaran mendalam memerlukan:
- Ruang kelas fleksibel
- Akses internet
- Media pembelajaran
- Alat proyek
Banyak sekolah belum memiliki fasilitas memadai untuk mendukung pendekatan ini.
c. Kurangnya Dukungan Manajemen Sekolah
Beberapa kepala sekolah atau pimpinan belum memahami urgensi pembelajaran mendalam, sehingga:
- Tidak menyediakan ruang diskusi guru
- Tidak memberi kebijakan fleksibel
- Tidak menambah sarana yang dibutuhkan
d. Kurangnya Kolaborasi Antar Guru
Pembelajaran mendalam akan lebih kuat jika guru:
- Saling berbagi praktik baik
- Mendesain pembelajaran bersama
- Melakukan refleksi kolaboratif
Namun, waktu guru sering tersita administrasi sehingga kolaborasi minim.
e. Administrasi yang Masih Berat
Tuntutan laporan, penilaian, dan dokumen lain sering menyita waktu guru sehingga energi untuk mengembangkan pembelajaran mendalam menjadi terbatas.
f. Harapan Orang Tua yang Kurang Selaras
Sebagian orang tua beranggapan bahwa:
- Belajar = mendengarkan guru
- Kelas yang ramai diskusi dianggap tidak tertib
- Proyek pembelajaran membuang waktu
Padahal pembelajaran mendalam membutuhkan peran aktif siswa.
Guru alumni pelatihan PM memiliki kompetensi untuk melaksanakan pembelajaran mendalam, tetapi penerapannya tidak selalu mudah. Tantangan internal seperti perubahan mindset dan kemampuan merancang pembelajaran, serta tantangan eksternal seperti fasilitas terbatas dan budaya sekolah, semuanya perlu diatasi secara bertahap.
Kunci keberhasilan pembelajaran mendalam adalah kolaborasi, dukungan lingkungan sekolah, perubahan pola pikir, serta komitmen guru untuk terus belajar dan beradaptasi.
Dengan sinergi ini, pembelajaran mendalam dapat berjalan optimal dan memberi dampak positif bagi murid.