Literasi dan Numerasi di Kurikulum Merdeka: Cara Baru Mengukur Cerdas

Mengapa Literasi dan Numerasi Jadi Fokus Baru Pendidikan?

Dulu, kecerdasan sering diukur dari nilai ujian atau hafalan teori.
Namun kini, dunia berubah. Di era informasi yang cepat dan penuh data, kemampuan yang paling dibutuhkan bukan sekadar “bisa menjawab soal”, tetapi bisa memahami, menganalisis, dan mengambil keputusan dari informasi.

Inilah alasan Kurikulum Merdeka menempatkan literasi dan numerasi sebagai kompetensi dasar — pondasi bagi seluruh proses belajar di sekolah.

Melalui pendekatan baru ini, siswa tidak hanya tahu “apa yang benar”, tetapi juga mengerti mengapa itu benar dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Apa Itu Literasi dan Numerasi?

📖 Literasi

Bukan hanya kemampuan membaca teks, tetapi juga memahami makna, menilai informasi, dan menggunakannya untuk berpikir kritis dan kreatif.
Literasi mencakup:

  • Literasi membaca dan menulis
  • Literasi digital (memahami informasi dari media online)
  • Literasi visual dan data (membaca grafik, peta, simbol, dan tabel)

🔢 Numerasi

Adalah kemampuan menggunakan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menghitung.
Siswa yang numerat mampu:

  • Membaca data dan grafik
  • Membandingkan nilai atau proporsi
  • Memahami risiko, peluang, dan perbandingan
  • Menggunakan angka untuk memecahkan masalah nyata

Dengan kata lain, literasi membuat siswa berpikir kritis, sedangkan numerasi membuat siswa berpikir logis.

Mengapa Literasi dan Numerasi Penting di Kurikulum Merdeka?

1. Pondasi Semua Pelajaran

Baik Bahasa, IPA, IPS, hingga Seni, semuanya membutuhkan kemampuan membaca, memahami, dan berpikir logis. Tanpa literasi dan numerasi, siswa kesulitan memahami konteks pelajaran lainnya.

2. Menyiapkan Siswa untuk Dunia Nyata

Kehidupan sehari-hari penuh dengan informasi dan angka — dari membaca petunjuk obat, menganalisis berita, hingga mengatur keuangan.
Kemampuan literasi dan numerasi menjadikan siswa lebih siap menghadapi tantangan sosial dan ekonomi.

3. Mengubah Pola Evaluasi

Kurikulum Merdeka menilai pemahaman dan penerapan, bukan sekadar hafalan.
Melalui asesmen seperti Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), guru bisa melihat sejauh mana siswa memahami konteks, bukan hanya jawaban benar.

Ciri Pembelajaran Literasi dan Numerasi yang Efektif

  1. Kontekstual dan Relevan
    Materi dikaitkan dengan pengalaman nyata. Misalnya, menghitung luas kebun sekolah atau menulis opini tentang isu lingkungan.
  2. Berbasis Proyek dan Kolaborasi
    Siswa diajak meneliti, berdiskusi, dan membuat karya. Literasi berkembang lewat komunikasi, numerasi lewat pengolahan data.
  3. Menggunakan Media Digital dan Visual
    Grafik interaktif, video edukatif, dan AR (augmented reality) membantu siswa memahami konsep secara konkret.
  4. Mendorong Refleksi dan Berpikir Kritis
    Siswa tidak hanya mengerjakan soal, tapi juga menilai proses berpikir mereka sendiri.

Tantangan Guru dalam Mengajarkan Literasi dan Numerasi

  • Keterbatasan waktu dan media ajar
    Tidak semua sekolah memiliki sumber belajar kontekstual.
  • Masih kuatnya budaya hafalan
    Siswa terbiasa mencari “jawaban cepat” tanpa memahami konsep.
  • Perlu pendampingan guru
    Guru harus terus beradaptasi dengan pendekatan baru, termasuk penggunaan teknologi pembelajaran.

Buku dan Media Pembelajaran yang Mendukung Literasi & Numerasi

Untuk mendukung guru dan siswa menerapkan pembelajaran literasi dan numerasi, Penerbit Tiga Serangkai menghadirkan Buku Platinum — seri buku yang disusun selaras dengan Kurikulum Merdeka dan dirancang untuk membangun kompetensi dasar siswa.

Keunggulan Buku Platinum:

✅ Materi disajikan kontekstual dan tematik
✅ Memuat aktivitas HOTS (Higher Order Thinking Skills)
✅ Ada soal berbasis AKM
✅ Mengintegrasikan literasi dan numerasi di setiap bab
✅ Dilengkapi Platinum Digital dan Platinum Cinema — fitur video, animasi, dan latihan interaktif

Dengan pendekatan ini, guru dapat menilai kemampuan siswa secara lebih autentik dan menyenangkan.

Contoh Penerapan di Kelas

  • SD: Membaca teks cerita rakyat, lalu menghitung jarak perjalanan tokoh dengan satuan panjang.
  • SMP: Menganalisis grafik pertumbuhan penduduk dan menulis opini tentang dampaknya.
  • SMA: Mengolah data ekonomi dan menulis laporan berbasis data numerik.

Aktivitas seperti ini membuat siswa berpikir kritis, logis, dan reflektif.

Literasi dan Numerasi, Fondasi Generasi Cerdas dan Bijak

Kecerdasan masa kini bukan lagi tentang seberapa cepat menjawab soal,
tetapi seberapa dalam memahami dan menggunakannya untuk kebaikan.

Literasi mengasah logika dan empati, numerasi mengasah logika dan analisis.
Dua kemampuan ini menjadi pondasi agar siswa Indonesia tidak hanya pintar, tetapi juga bijak, kritis, dan siap bersaing di dunia global.

Ingin menerapkan pembelajaran literasi dan numerasi yang kontekstual dan menyenangkan di sekolah?
Temukan jawabannya melalui Buku Platinum dan platform digital Tiga Serangkai — dirancang untuk membantu guru menghadirkan pembelajaran yang bermakna dan sesuai arah Kurikulum Merdeka.