Ketika Kebebasan Belajar Harus Sejalan dengan Tujuan Pendidikan
Konsep Merdeka Belajar yang digaungkan dalam beberapa tahun terakhir membawa semangat baru dalam dunia pendidikan Indonesia.
Siswa diajak untuk belajar sesuai minat, bakat, dan ritme masing-masing, sementara guru diberi keleluasaan untuk mengatur pembelajaran yang lebih kontekstual dan kreatif.
Namun, muncul pertanyaan penting:
Apakah kebebasan dalam belajar berarti tanpa batas?
Bagaimana menjaga agar “merdeka” tidak berubah menjadi “tanpa arah”?
Apa Itu Merdeka Belajar?
Merdeka Belajar adalah filosofi pendidikan yang memerdekakan pikiran — baik bagi guru maupun siswa.
Tujuannya adalah menciptakan proses belajar yang bermakna, menyenangkan, dan relevan dengan kehidupan nyata.
Bagi siswa, Merdeka Belajar berarti:
- Belajar dengan gaya dan kecepatan masing-masing,
- Mengeksplorasi minat pribadi,
- Mengembangkan karakter dan keterampilan berpikir kritis.
Bagi guru, Merdeka Belajar berarti:
- Memiliki ruang untuk berinovasi,
- Tidak sekadar mengajar buku teks,
- Tapi membimbing proses berpikir dan refleksi siswa.
Tantangan: Saat Kebebasan Butuh Arah
Seperti halnya kemerdekaan dalam kehidupan sosial, kebebasan belajar juga membutuhkan arah dan tanggung jawab.
Beberapa tantangan yang muncul di lapangan:
- Siswa belum terbiasa dengan pembelajaran mandiri.
Banyak yang masih menunggu instruksi daripada mengeksplorasi sendiri. - Guru masih mencari keseimbangan antara fleksibilitas dan kurikulum.
Tidak mudah menyesuaikan pembelajaran diferensiasi dengan target capaian kompetensi. - Orang tua kadang salah memahami “merdeka”.
Mereka mengira anak boleh belajar sesuka hati, padahal tetap ada panduan kompetensi dan tujuan belajar.
Karena itu, Merdeka Belajar bukan berarti bebas tanpa kendali, tetapi bebas dengan bimbingan.
Merdeka Belajar yang Terarah: Seperti Apa?
- Berbasis Tujuan Pembelajaran (Learning Goals)
Guru dan siswa harus memahami arah akhir pembelajaran: apa yang ingin dicapai, dan mengapa hal itu penting. - Menggunakan Strategi Pembelajaran Aktif dan Reflektif
Kelas yang aktif bukan hanya ramai, tapi juga mendorong siswa berpikir, berdiskusi, dan menarik makna dari kegiatan belajar. - Fleksibel dalam Metode, Tegas dalam Nilai
Cara belajar boleh bervariasi — proyek, eksperimen, diskusi — tetapi nilai-nilai seperti tanggung jawab, disiplin, dan kolaborasi harus tetap dijaga. - Mengintegrasikan Penilaian Formatitif
Asesmen tidak hanya di akhir, tetapi menjadi bagian dari proses belajar agar siswa memahami progres mereka.
Peran Guru: Pemandu dalam Kebebasan Belajar
Guru di era Merdeka Belajar bukan lagi “sumber kebenaran”, melainkan navigator yang membantu siswa menemukan arah belajar mereka sendiri.
Guru perlu:
- Menjadi fasilitator yang sabar dan empatik,
- Mendorong rasa ingin tahu,
- Memberi ruang untuk mencoba dan gagal,
- Menyediakan refleksi setelah setiap pembelajaran.
Seperti pelatih dalam sebuah perjalanan, guru memastikan setiap siswa tahu ke mana mereka akan pergi — tanpa menghilangkan rasa petualang dalam belajar.
Buku Platinum sebagai Panduan Merdeka Belajar yang Terarah
Penerbit Tiga Serangkai memahami bahwa kebebasan belajar butuh arah yang jelas.
Melalui Buku Platinum, konsep Merdeka Belajar dihadirkan secara terstruktur, fleksibel, dan relevan dengan dunia nyata.
Fitur Buku Platinum yang Mendukung:
✅ Materi disusun dengan learning outcomes yang jelas dan kontekstual
✅ Aktivitas berbasis proyek dan eksplorasi minat siswa
✅ Soal HOTS (C4–C6) untuk melatih berpikir tingkat tinggi
✅ Kolom refleksi “Apa yang Saya Pelajari Hari Ini?”
✅ Dukungan Platinum Digital dan Platinum Cinema untuk pengalaman belajar interaktif
Dengan kombinasi buku cetak dan digital, guru dan siswa memiliki arah yang jelas dalam kebebasan belajar.
Contoh Praktik di Kelas
- SD: Guru meminta siswa membuat cerita bergambar berdasarkan pengalaman di rumah. Mereka bebas memilih tema, tapi harus menunjukkan nilai moral yang dipelajari.
- SMP: Siswa melakukan proyek “mini riset lingkungan sekolah” dengan format presentasi bebas, tapi tetap harus mengacu pada indikator sains.
- SMA: Guru Bahasa Indonesia memberi tugas membuat esai reflektif tentang topik sosial yang disukai siswa, dengan struktur dan kriteria penilaian yang jelas.
Merdeka, tapi tetap fokus. Bebas, tapi tetap bertanggung jawab.
Merdeka Belajar Adalah Ruang, Bukan Lepas
Kebebasan dalam belajar bukan berarti berjalan tanpa arah.
Sebaliknya, Merdeka Belajar adalah ruang untuk tumbuh — dengan panduan, nilai, dan tujuan yang jelas.
Dengan bimbingan guru dan dukungan sumber belajar seperti Buku Platinum dari Tiga Serangkai, kebebasan belajar akan menjadi perjalanan bermakna yang mengarahkan siswa menuju kemandirian dan tanggung jawab.
✨ Wujudkan semangat Merdeka Belajar yang terarah dan menyenangkan bersama Buku Platinum dan Platinum Digital dari Tiga Serangkai.
Belajar bukan sekadar bebas, tetapi juga bertumbuh dengan arah yang jelas.