Behind The Scene – Buku “Tetap Gaul, Tapi Syar’i”

Awal April tahun lalu, ketika Bandung sedang panas-panasnya, sebuah email manis mendarat di inbox. Dari mas Dhidit, editor Tiga Serangkai. Emailnya memang manis, tapi cukup membuat Bandung serasa tambah panas. Isinya tantangan untuk menulis. Bukan naskah biasa. Tapi sesuatu yang baru buat saya. Naskah remaja! Hohoho …. Saya sampai kepanasan. Terima tidak ya, tantangan ini.

Lama sekali saya mengulur waktu untuk menuliskan naskah spesial ini. Dengan alasan lagi sibuk, saya minta waktu yang longgar. Padahal sebenarnya lagi mikir lama dan bag-big-bug gedubrag persiapan mencari referensi dulu. Biasanya saya menulis untuk buku anak. Referensi untuk itu sudah banyak. Tapi untuk naskah spesial ini, belum banyak referensi yang saya punyai. Hunting buku pun dimulai. Saya mulai mencari referensi yang dibutuhkan ke toko-toko buku. Walaupun referensi sudah terkumpul, tapi ternyata nyali belum terkumpul. Kalimat pembukanya saja belum nemu, ampuuun. Tidak lucu kan, kalau untuk remaja dibuka dengan sapaan, “Hai, Adik-Adik” atau “Eh, Teman-Teman”.

Berhari-hari kertas kosong di depan mata. Wah, bahaya nih. Biasanya untuk menulis satu naskah buku anak, tak-tik-tuk lancar dan jreng … jreng seminggu langsung beres semua. Namun, untuk naskah ini, kenapa blank terus? Tak mungkin kan, saya menyetorkan kertas kosong hehe …. Akhirnya saya menghubungi teman penulis, Mas Sinyo Egie. Ia adalah penulis yang banyak berkecimpung mendampingi para LGBT yang ingin bertobat, dan sering mengisi seminar materi parenting tentang pergaulan remaja. Nah, cocok kan buat dijadikan partner menulis? Yes, dengan tanpa ancaman, Mas Sinyo bersedia menemani saya menulis. Sebuah energi ajaib datang. Jika nulis bareng begini, memang lebih asyik.

Alhamdulillah tak lama kemudian naskah kolaborasi kami pun jadi. Awalnya sih judul yang diajukan Mas Dhidit adalah “Semua Ada Aturannya”. Hehe … masih sangat umum. Lalu, kami menggantinya jadi Pengen Jadi Remaja Gaul? Ada aturannya, loh! Sudah lebih spesifik ke pergaulan remaja tuh judulnya, tapi kepanjangan. Hingga akhirnya judulnya jadi “Tetap Gaul, tapi Syar’i”. Pendek dan eye catching, kan? Apalagi dengan tampilan kover yang unyu dan elegan, ehem.

Tetap Gaul Tapi Syar'i

Buku ini plit komplit membahas tentang dunia pergaulan remaja dan bagaimana bergaul yang sehat sesuai syariat islam. Mulai dari hijab dan cara berpakaian, bahaya pacaran, hingga bahaya pergaulan yang menyimpang seperti LGBT.

Semoga buku ini bisa menebar manfaat, menuntun para remaja agar tetap berada dalam koridor yang lurus, tahan banting dengan gempuran lingkungan yang makin hari makin menyeramkan. Selain itu, semoga Tetap Gaul, tapi Syar’i juga berkontribusi bagi kemajuan peradaban bangsa Indonesia pada khususnya, dan seluruh ummat Islam, melahirkan pribadi-pribadi yang islami, sholeh, dan tangguh, siap menghadapi tantangan zaman, dan mencetak generasi penerus ummat yang di tangan merekalah nanti Islam akan jaya. Aamiiin ya robbal ‘alamin.

Terima kasih kepada partner saya, Mas Sinyo, teman-teman penulis, dan keluarga tercinta untuk dukungan dan semangatnya. Juga untuk ilustrator, editor, dan semua tim yang membantu kelahiran buku ini. Dan, spesial terima kasih kepada para pembaca, calon pembaca, dan para orang tua yang telah membelikan anaknya buku ini. Semoga menjadi investasi kita dan amal jariyah. (Tethy Ezokanzo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Tiga Serangkai