Ketika Liburan Mengubah Masa Depan – The Ultrasmart Holiday

Shely KayoulaSaya sejak lama bermimpi menjadi seorang penulis, tapi tidak pernah punya cukup kepercayaan diri untuk mengirimkan karya saya baik ke meja penerbit maupun ke penyelenggara lomba.

Hari-hari saya selain kuliah sambil kerja, seringnya dihabiskan dengan membaca buku di rumah, sambil membayangkan kapan karya saya akan dibaca orang. Singkatnya, saya hanya seorang kutu buku yang merangkap menjadi pemimpi.

Ketika keberanian untuk memperlihatkan tulisan saya kepada publik muncul, hasilnya malah tak sesuai dengan harapan. Bukannya diterbitkan, karya saya saat itu-bersama karya puluhan rekan penulis lainnya-malah dibawa lari penyelenggara lomba. Kalau bisa diungkapkan barangkali rasanya seperti melahirkan anak pertama setelah sekian lama mendamba, tapi bayi yang kita lahirkan malah dibawa kabur oleh suster rumah bersalin. Pedih.

Tak lama berselang, saya melihat di internet bahwa penerbit Tiga Serangkai mengadakan lomba menulis novel remaja. Bukan main temanya, yakni ’Seberapa Indonesiakah Dirimu?’, tanpa pikir panjang saya langsung ..., skip. Keberanian saya untuk menekuni dunia menulis sudah terlanjur terkikis, malahan ada trauma yang muncul saat saya mencoba memupuk kembali keberanian itu.

Saya merasa impian saya sebagai penulis hanya akan berakhir seperti bunga tidur yang lenyap saat kedua mata terjaga. Beberapa hari mencoba me-recovery diri, belum ada hasil, hingga akhirnya saya memutuskan untuk melakukan, hmmm ... semacam liburan ’pelarian’.

Rencana perjalanan untuk liburan ’pelarian’, justru malah menjadi titik penting meraih impian saya sebagai penulis. Subtitle novel debut saya The Ultrasmart Holiday, yaitu ”ketika liburan mengubah masa depan" benar-benar menggambarkan bukan hanya isi novel, namun juga proses kreatif novel itu sendiri.

Saat tengah browsing sana-sini mencari informasi destinasi wisata dan menyusun itinerary, saya malah keasyikan membaca sejarah dan budaya yang berkaitan dengan objek-objek wisata tersebut. Padahal dulu saat sekolah, saya tak begitu suka pelajaran sejarah. Namun ketika membaca sejarah dari media lain, rasanya sejarah dan budaya Indonesia mulai mengisi tempat tersendiri di hati saya.

Melalui sejarah, kita bisa merangkai seperti apa masa depan yang kita inginkan dan melalui budaya kita bisa belajar mengenai kearifan. Ketertarikan akan sejarah dan budaya Indonesia, mulai menumbuhkan kembali sisi keberanian saya untuk menulis.

Saya akan membagi satu rahasia yang sesaat lagi tak akan jadi rahasia, percaya atau tidak, beberapa latar tempat bersejarah dalam novel The Ultrasmart Holiday belum pernah saya kunjungi secara langsung. Bahkan ada beberapa di antaranya yang baru saya ketahui saat menyusun rencana liburan ’pelarian’.

Di novel The Ultrasmart Holiday, selain ingin menuturkan sebagian kecil sejarah dan budaya Indonesia melalui gaya saya sendiri, saya ingin juga berbagi hal yang sama, yaitu tak harus beranjak dari tempat kita untuk mengetahui berbagai macam hal. Seperti saya yang dengan membaca jadi mengetahui tentang objek-objek wisata sejarah dan budaya Indonesia, seperti itu juga yang saya harap Anda bisa peroleh dari novel ini.

Pengetahuan bisa bersumber dari mana saja. Saya berharap The Ultrasmart Holiday dapat menjadi salah satu sumber pengetahuan untuk para pembaca. (Ditulis oleh: Shely Kayoula)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*