Inspirasi dari Dialog dengan Anak

"Kasihan ya, Mi. Daunnya dimakan ulat," kata anak saya sambil menunjuk ke tanaman Beauty Taiwan di teras rumah kami.

Saya memandangi tanaman itu. Ternyata memang ada ulat yang memakan daun-daun tanaman tersebut hingga hampir habis.

"Iya, ulatnya harus makan supaya kenyang. Kan, dia mau menjadi kupu-kupu," kata saya kemudian.

Dari obrolan singkat itulah kemudian terbersit satu ide untuk membuat buku tentang simbiosis, yaitu hubungan antara hewan dengan tumbuhan, hewan dengan hewan, ataupun tumbuhan dengan tumbuhan.

Persahabatan Hewan dan Tumbuhan

Saya pikir, anak-anak sebenarnya mempunyai ketertarikan dengan cerita seputar dunia hewan dan tumbuhan. Apalagi jika cerita yang dibuat menyelipkan pengetahuan. Namun, tentu saja cerita tersebut harus menarik dan membangkitkan imajinasi.

Maka, dimulailah proses pengumpulan data. Jika pada buku Aku Berani Begini, Aku Berani Begitu pengumpulan data didapatkan dengan cara mengamati tingkah laku anak-anak, maka di buku Persahabatan Hewan dan Tumbuhan ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara membuka kembali buku-buku biologi, juga browse informasi di internet.

Data sudah terkumpul. Sekarang, bagaimana cara menceritakannya?

Saya kembali teringat dengan kata-kata anak saya: "Kasihan ya, Mi." Saat berkata seperti itu, sebenanya dia sedang mencoba memahami perasaan si tanaman. Jadi, mungkin akan sangat menarik jika cerita yang saya buat nanti, menggambarkan bagaimana perasaan para hewan dan tumbuhan.

Persahabatan Hewan

Misalnya saja, saat menceritakan kenapa di mulut buaya bisa ada banyak sisa makanan, saya mencoba membayangkan bagaimana rasanya jika menjadi buaya. Hingga kemudian tercipta dialog ini: "Hei, Kepik. Kamu lihat, kan, tanganku ini pendek, sementara mulutku ini panjang. Bagaimana mungkin aku bisa menggosok gigi?" (hal. 44).

Juga saat mencoba membayangkan menjadi Tali Putri. Tanaman yang cantik, namun sangat merugikan tanaman lain karena cara hidupnya dengan mengisap sari-sari makanan tanaman lain.

Tali Putri tersenyum, "Ah, Beluntas. Masa, tanaman cantik seperti diriku mau mengambil makananmu, sih? Aku cuma menumpang melilitkan sulurku saja." (hal. 40).

Menarik bukan? Betapa sebuah pelajaran bisa dikemas menjadi cerita yang menarik. Sehingga anak-anak tanpa sadar sudah mendapat banyak informasi dari cerita-cerita yang dibaca. (Anisa Widiyarti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Tiga Serangkai