Proses Kreatif Kokeshi

Vina Sri KokeshiKOKESHI

Kokeshi itu apa sih?

Banyak yang bertanya seperti itu ketika saya mempromosikan buku ini. Saat saya jelaskan tentang Kokeshi, pertanyaan lanjutannya adalah : Kenapa Kokeshi? Dan Kenapa Jepang?

Yah, sebenarnya ide tentang Kokeshi sudah lama ada. Saking lamanya saya sendiri lupa kapan tepatnya ide itu muncul, hehe... yang jelas ide itu tidak bisa saya lupakan. Berbeda dengan ide-ide lain yang biasanya muncul hilang begitu saja.

Kenapa Kokeshi?

Sebelum memilih kokeshi, saya sudah mempertimbangkan beberapa alternatif seperti teddy bear, matryoska, hingga wayang. Namun pilihan akhir jatuh pada kokeshi. Alasannya sederhana saja, teddy bear dan wayang sudah banyak yang tahu alias tidak asing lagi. Dan saya ingin mencari sesuatu yang lain

Matryoska hampir saja terpilih, tapi setelah dipikir ulang, sepertinya akan sulit mencari data tentang Rusia, terlebih tidak ada satu pun teman saya yang tinggal atau pernah ke sana. Berbeda dengan Jepang, adik dan beberapa teman pernah tinggal di sana sehingga cukup mudah untuk mencari info tentang negara itu.

Lagipula judul kokeshi sepertinya cukup menjual.

Dan penulisan pun dimulai.

Kokeshi adalah novel kedua setelah novel pertama yang terbit dua tahun yang lalu. Prosesnya cukup singkat, hanya tiga bulan. Selama proses menulis, saya tidak lepas dari ponsel, bertanya pada adik tentang Jepang, browsing di internet, mencari data dan foto tentang wilayah Jepang yang saya jadikan setting.

Yang paling saya sukai saat menulis novel ini adalah membayangkan berjalan-jalan di Jepang. Menyusuri taman, menyaksikan guguran bunga sakura, naik kereta, bersepeda serta merasakan dinginnya salju, bbrrr.... juga membayangkan kesibukan di Shibuya yang terkenal itu. Duh... jadi pengen ke Jepang juga.. L

Selain itu berjalan-jalan di daerah Salabintana untuk mendapatkan feel tempat kedua juga cukup menyenangkan. Apalagi bagi emak dua orang anak (saat itu anak ketiga belum lahir), meski hanya berkeliling dengan motor sudah merupakan hiburan tersendiri.

Kesulitannya adalah ketika ada tokoh yang ‘memberontak’. Antagonis yang sedianya dijadikan penjahat utama saat tengah cerita menjadi berputar haluan. Saya sempat berhenti menuliskannya ketika sampai di Bab 6. Mentok. Dan tidak tahu bagaimana harus meneruskannya lagi.

Untuk mengembalikan semangat, saya membaca beberapa buku dengan tema  sejenis. Akhirnya

Kokeshi

Awalnya naskah Kokeshi bukan ditujukan untuk Tiga Serangkai, namun jodohnya ternyata di sana, dan saya sangat bersyukur.

Naskah Kokeshi saya kirim setelah novel anak saya ditolak Tiga Serangkai. Setelah itu barulah saya coba kirim naskah Kokeshi. Alhamdulillah diterima.

Saat meminta endorsment dari tiga penulis cantik (siapa aja mereka? Cari aja novel Kokeshi ya...), dan menerima masukan mereka, naskah Kokeshi kembali mengalami pengeditan. Untunglah Pak Editor aka Pak Cahyadi Prabowo cukup sabar menunggu saya selesai mengedit.

Hanya selang empat bulan kemudian, tiba-tiba sebuah paket datang. Yeaay! Kokeshi sudah beredar! Senangnya...

(Vina Sri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Tiga Serangkai