Semoga Para Pembaca Menjadi Pejuang Shubuh

Pejuang Shubuh
"Buku baruku, nih. Semoga nggak jarkoni."

Itu adalah tulisan yang saya kirim lewat wa pada suami bersama dengan foto kover buku Pejuang Shubuh disertai dengan cengiran lebar.

Alhamdulillah, suami selalu bangun sebelum shubuh untuk shalat malam, tak pernah meninggalkan jamaah shubuh di masjid, bahkan kalau tidak ada jadwal lain selalu lanjut sampai sunnah syuruq. Saya-lah yang kadang dibangunkan beliau. Jadi, kata jarkoni singkatan dari iso ujar ra iso nglakoni, yang artinya bisa berucap tapi tak bisa menjalankan, adalah benar. Inilah salah satu manfaat dalam menulis, khususnya buku agama. Sebagai motivasi pribadi, agar bisa lebih baik lagi dalam menjalankan perintah Allah SWT. Tentu saja masih ada manfaat lainnya. Mari kita simak.

Buku Pejuang Shubuh memang ‘hanya’ berisi kumpulan cerita pendek. Fiksi. Namun, proses pembuatannya tak semudah menuliskan cerpen biasa. Tema tentang berbagai keutamaan shalat shubuh, membuat saya harus berburu buku serius. Saya ke toko buku sunnah untuk mencari referensi. Keajaiban Shalat Shubuh berhasil memikat saya untuk membawa ke kasir. Ya, selain mencari berbagai sumber yang banyak bertebaran di internet, membaca langsung dari buku tetap selalu saya prioritaskan. Kan, buku harus beli, sementara internet gratis? Sstt...  menulis juga harus mengeluarkan modal, lho, kalau mau tulisan kita lebih berbobot. Alhamdulillah, buku itu sangat bermanfaat buat saya. Banyak pengetahuan baru yang bisa dapatkan. Nah, inilah manfaat kedua dalam menulis buku. Jadi belajar.

Pejuang Shubuh

Baik, sekarang lanjut ke proses kreatif. Saya ingin buku ini tidak 'biasa'. Harus ada diferensiasinya. Bukan sok idealis. Namun, bisa menyajikan buku dengan penampilan maksimal, akan memberikan kepuasan tersendiri. Setelah lama berpikir, Allah SWT pun mengilhamkan untuk menyelingi dengan komik, sebagai ganti ilustrasi. Kelihatannya cukup unik juga. Jadi mirip-mirip nomik, kan? Alhamdulillah, editor pun senang dengan usulan saya ini.

Selain itu, agar lebih mengena dan menambah banyak pengatahuan, dituliskan juga tip dan hadits pendukung cerita. Beberapa cerita juga dikisahkan tentang sahabat yang berjuang mendapatkan shalat shubuh. Biasanya, orangtua suka kalau dalam satu buku banyak muatannya seperti ini, hehe. Semoga tidak membosankan buat anak, ya.

Pejuang Shubuh

Sebelas cerita pendek dengan aneka tema pun berhasil dibuat. Dua di antaranya dengan setting luar negeri. Sebagai pembanding kisah Abdullah Ummi Maktum ra. yang buta, tapi tetap berjuang untuk pergi ke masjid, maka dibuatlah cerita tentang Taqi yang berjuang berjamaah shalat Shubuh, dengan bersepeda menembus dinginnya musim dingin bersalju.

Juga perjuangan Syakira ketika tinggal di Jepang. Saat musim panas, waktu shubuh pukul tiga dini hari. Tentu tak mudah untuk bangun jam segitu. Apalagi, malamnya baru bisa tertidur setelah larut. Pun tak nyenyak karena udara yang sangat panas. Dan masih ada cerita lain yang tak kalah menarik. Aneka cerita dalam satu tema besar ini tetap tak akan membosankan, karena isinya berbeda-beda.

Selamat baca, ya. Semoga buku ini membuat para pembaca menjadi pejuang shubuh. (Aan Wulandari U.)

3 Comments

  1. Harganya berapa ini mbak? Sdh ada di tobuk?

  2. MasyaAllah..kereen mba aan 🙂 Barakallah mba..

  3. Bisa beli satuan langsung di Tiga Serangkai atau ada minimal order?

    Mohon bantuan informasinya ya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*