Menulis dari Hati

Tulisan ini saya beri judul Menulis dari Hati. Lho, memangnya ada penulis cerita yang menulis tidak dari hati? Biasanya seorang penulis memang berangkat menulis dari hal-hal yang dekat di hatinya. Begitu pula saya. Serial Kisah Buah Jagoan yang saya tulis adalah hasil perjalanan panjang saya menumbuhkan kebiasaan makan buah pada anak.

Kisah Buah Jagoan

Sejak dikenalkan pada makanan pendamping ASI, anak pertama saya yang bernama Matin selalu menolak buah. Permusuhan Matin dengan buah terus berlanjut bahkan hingga ia duduk di kelas 1 SD. Apa pun yang terjadi, Matin tidak suka dan tidak mau makan buah. Kalaupun saya bisa memasukkan buah ke dalam mulutnya, hampir dapat dipastikan Matin memuntahkannya kembali.

Selain itu, ada hal lain yang membuat saya risau. Matin menderita alergi pada debu, udara kering, dan tungau. Jadi, tiap sebentar alerginya kambuh dan yang diserang adalah saluran pernapasan. "Ngiiiiiiik.... ngiiiiiik" begitu bunyi napas Matin yang keluar dari saluran napas yang menyempit akibat radang. Jika sedang kambuh, Matin tak henti-hentinya batuk sepanjang siang dan malam hingga semua aktivitasnya terganggu. Matin jadi sangat kurus karena sulit makan. Tidur malamnya pun selalu kurang karena terganggu batuk.

Saya sudah membawa Matin ke banyak dokter di berbagai rumah sakit. Selain obat yang hanya meredakan gejalanya saja, semua dokter yang saya datangi punya jawaban sama. Agar tak mudah kambuh dan untuk bisa benar-benar sembuh, Matin harus menerapkan gaya hidup sehat. Salah satunya, Matin harus makan buah.

Ribuan cara untuk bisa membuat Matin bisa makan buah saya lakukan. Tanya kanan, tanya kiri. Browse berjam-jam. Ratusan resep mengolah buah saya wujudkan ke atas piring Matin. Membujuk pelan, bicara serius sampai marah-marah sudah tak terhitung jumlahnya.

Satu hal yang juga sering saya lakukan adalah bercerita. Di malam-malam ketika Matin tak bisa tidur karena batuk, saya menggendongnya. Dalam gendongan, sambil saya usap-usap punggungnya, saya ceritakan beragam kisah buah. Ada buah yang bisa mengusir dahak, buah yang ternyata peri penyembuh, buah yang membuat batuk ketakutan sampai buah yang bisa terbang dan mengusir bunyi "ngik ngik" dari saluran napas Matin.

Kebiasaan ini saya lakukan kapan pun Matin terbangun karena batuk. Bahkan hingga Matin sudah semakin besar. Badannya yang semakin panjang dan besar sampai membuat saya tak kuat lagi menggendongnya hingga habis satu cerita. Rupanya cerita-cerita ini masuk dalam ingatan Matin. Secara perlahan dari hari ke hari acara makan buah pun semakin lancar. Sambil mencoba memakan buahnya, Matin suka menyebutkan kembali manfaat buah yang pernah saya ceritakan. Rupanya menceritakan manfaat buah bagi tubuh secara detail memicu keinginan Matin untuk bisa merasakannya.

Yang menjadi masalah kemudian adalah Matin suka meminta saya menceritakan ulang kisah-kisah buah itu. Padahal saya membuatnya spontan saja, banyak cerita yang saya lupa. Akhirnya agar tidak lupa, saya menuliskan beberapa di antaranya. Cerita-cerita itu kemudian saya kirim ke redaksi Tiga Ananda. Saya sangat bersyukur tidak lama setelah dikirim, datang respons dari Tiga Ananda yang diwakili oleh editor Mbak Yenni Saputri, menyatakan tertarik untuk menerbitkan cerita-cerita buah tersebut.

Namun, untuk layak terbit sesuai standar dari Tiga Ananda, tentu cerita-cerita tersebut harus melalui proses pengembangan dan perbaikan di sana-sini. Berkah luar biasa lagi, Mbak Yenni sangat membantu saya melalui proses ini. Respons mbak Yenni yang selalu positif dan terbuka membuat proses pengembangan ide berjalan lancar dan malah membuat saya mendapat banyak sekali ilmu-ilmu baru.

Kisah Buah Jagoan

Yang pasti, saya merasa sangat terharu ketika cerita saya akhirnya mewujud ke dalam buku. Sungguh Kisah Buah Jagoan menjadi hasil sekaligus saksi perjalanan usaha saya yang sepenuh-penuh hati untuk menumbuhkan kebiasaan makan buah pada anak-anak. Semoga cerita dalam serial Kisah Buah Jagoan bisa membantu mama lain yang menghadapi masalah yang sama dengan saya. Baik dengan membiarkan anak membaca sendiri maupun dengan membacakannya. Semoga Payo, Pisang, dan Nona Apel bisa menggelitik rasa penasaran anak-anak kita untuk mau makan dan semakin menyukai buah.(Kiki Sastra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Tiga Serangkai