Membuka Kenangan Masa Kecil, Rajin ke Perpustakaan, dan Sharing dengan Anak-Anak

Petualangan Ke Negeri Akhlatusia

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Menerima ‘todongan’ untuk bercerita tentang proses kreatif  penulisan buku Petualangan Ke Negeri Akhlatusia  dari  Kak Andar, membuat saya agak gemetar. Buku ini baru saya terima beberapa hari yang lalu, eh masa langsung ditodong seminggu sesudahnya. Sungguh teganya dirimu ... teganya teganyaaaa ... teganyaaaa ... (eits, berasa jadi penyanyi cap gayung … xixixi ….)

Tapi sejujurnya tentu saja saya senang. Karena sebagai penerbit besar, Tiga Ananda berkenan menampung cerita dan curhat saya mengenai proses penulisan buku ini. Terimakasih, yaa ….

Baik, saya akan mulai berbagi walau ilmu masih seujung jari. Semoga bermanfaat dan bisa menginspirasi kita semua. Aamiin..

Mulanya saya dikenalkan dengan Mas Didit, editor, oleh Mbak Watiek Ideo, rekan duet di empat buku cerita anak sebelumnya. Lalu Mas Didit menawarkan satu draf kasar yang ketika membacanya, saya langsung jatuh cinta. Tentang petualangan! Yipiey! Senangnya .... Terima kasih ya, Mbak Watiek.

Maka berbekal niat yang bulat dan semangat kuat, saya mulai menuliskannya. Bagaimana prosesnya?

Petualangan Ke Negeri Akhlatusia

Begini, kami berdiskusi sejak awal tentang desain, sasaran, dan tujuan buku ini. Jadilah dalam beberapa minggu, saya mencoba menangkap ide dan mengolaborasikannya ke dalam sebentuk outline yang tak saklek. Artinya, bisa saja berubah ketika nanti akan ditemukan pemikiran yang lebih pas, kece, dan mengena. Akhirnya, deal! Tokohnya adalah seorang anak lelaki yang pemberani, baik hati, penyayang, dan terkadang jahil. Di sisinya ada seekor kelinci yang memiliki beberapa ramuan dan setia menemani. Mereka akan menemui seorang raja bijaksana untuk belajar bagaimana memimpin negeri supaya adil dan sejahtera. Kedua petualang itu harus melewati sepuluh kota di mana masyarakatnya mencerminkan nama-nama kota tersebut. Misalnya, kikir, jujur, pemurah, pemarah, senang berbagi, pelit, dan sebagainya. Nama kota saya buat unik untuk menambah keseruan cerita.

Seru? Yups, banget! Saya terbantu karena terbiasa dikelilingi oleh laki-laki. Pertemanan sejak kecil, lima saudara laki-laki, dan sekarang memiliki dua anak laki-laki, hehehe. Jadi, saya pun memosisikan diri sebagai anak lelaki petualang sejati.

Oke, selain membuka kenangan masa kecil, yang harus saya lakukan adalah rajin ke perpustakaan dan sharing dengan anak-anak. Membaca  referensi akan membuat pemikiran kita terbuka dan mampu menangkap ide-ide yang beterbangan di kepala. Sharing dengan anak-anak bisa memperkaya imajinasi dan menajamkan intuisi demi menghasilkan karya yang bergizi dan bernilai tinggi. Insyaallah.

Semudah itu? Tentu saja tidak, hehehe. Berhubung saya seorang ibu, istri, penulis, admin di Tapis Blogger, dan sesekali diminta mengisi acara, mengatur waktu adalah salah satu tantangan seru yang harus saya hadapi dengan cinta. Tsaaah .... Terkadang, ketika ada deadline tulisan, ada kegiatan lain yang waktunya nyaris bersamaan harus dituntaskan. Atau ketika sedang fokus di dunia nyata, teman-teman di dunia maya memanggil-manggil agar saya menemui mereka. Jadi, huuft, tentu saja terkadang membuat saya termehek-mehek. Eh, malah curcol yang lain, xixixi. Jadi, manajemen waktu adalah salah satu prioritas yang harus saya tuntaskan dengan baik dan benar. Berusaha agar kesibukan saya tidak menzalimi kebutuhan keluarga.

Caranya? Menulis di saat anak-anak sekolah dan suami sudah berangkat kerja. Sekitar pukul 08.00 sampai 12.00 WIB. Kalau memang ada ide yang mendesak untuk dieksekusi, saya kudu lebih menjaga stamina supaya bisa menulis di saat anak-anak sudah pada tidur. Jam 10 sampai 12 malam.

Baiklah, lanjut, ya.

Awal Februari 2016 saya mulai chat dengan Mas Didit. Setelah ngobrol seseruan, saya menyerahkan tiga dari sepuluh cerita yang akan diinput. Beliau oke dan minta saya melanjutkan. Sambil menyelesaikan naskah, saya juga mencicil beberapa tulisan untuk mengisi blog atau sekadar menulis status di facebook, hehehe. Terkesan tak fokus? Enggak juga. Bagi saya, fokus itu bukan harus selalu tertuju pada satu titik, tapi pada bagaimana menjadikan titik-titik itu membentuk sebuah garis. Lagipula dengan menulis sesuatu yang berbeda, saya merasakan energi saya lepas dan tetap terkendali. Uhuk ... semoga.

Petualangan Ke Negeri Akhlatusia

Sembilan Juli 2016, naskah tuntas, lengkap dengan lembar aktivitas. Setelah sedikit revisi, tibalah saatnya ilustrasi. Untuk bagian ini, saya serahkan sepenuhnya ke Tiga Ananda. Tak sulit, karena ilustrator dari penerbit sudah mampu menafsirkan apa mau saya dan bagaimana desain ilustrasinya nanti.

Pertengahan Mei 2017, taraaaa ... sepuluh eksemplar buku Petualangan Ke Negeri Akhlatusia sudah mendarat manis di suatu sore yang gerimis. Duuuh, antara mau nangis sama meringis. Bahagia dan terharu menjadi satu. Alhamdulillah.

Tak henti saya mengucap syukur kepada Allah SWT. Juga terima kasih pada suami, anak dan keluarga besar, juga sahabat. Tanpa Dia dan mereka, apalah seorang Fitri Restiana. Sekarang pun masih apalah dan apatah, hehehe.

Tiga moto saya dalam melakukan aktivitas termasuk menulis adalah :

  1. Semangat belajar dengan bismillah
  2. Fokus itu bukan harus selalu tertuju pada satu titik, tapi pada bagaimana menjadikan titik-titik itu membentuk sebuah garis.
  3. Menulis dengan hati akan sampai ke hati. Menulis dengan logika akan sampai ke logika. Cobalah mengolaborasikan keduanya. Akan kita temukan bahwa sebuah tulisan bukan saja enak dibaca, tapi juga memiliki ruh untuk selalu dicinta.

 

Demikian. Semoga berkenan, ya, Temans.

Salam,

Fitri Restiana

Fb. Fitri Restiana | Ig. Fitri­_restiana | Twitter Fifinusantara | Blog www.fitrirestiana.web.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*