Proses Kreatif ”Kurban Pertamaku”

Kurban PertamakuKeinginan untuk membuat buku seputar kurban, mencuat saat membaca status FB beberapa teman ketika Iduladha. Banyak dari mereka yang menceritakan bahwa anak-anaknya ketakutan, bahkan histeris saat melihat hewan-hewan kurban disembelih.

Saat itu saya merasa ’ada yang salah’ di sini.

Berkurban adalah sebuah ibadah kepada Allah SWT. Jadi, tidak sepatutnya hal tersebut menjadi sesuatu yang menakutkan.

Dari situlah muncul keinginan saya membuat buku anak yang bercerita seputar berkurban. Saya ingin tokoh dalam cerita ini bukan hanya tak takut pada ibadah kurban, namun sangat ingin berkurban dengan usahanya sendiri.

Kok, anak kecil berkurban?

Kenapa tidak? Siapa pun sebenarnya mampu untuk berkurban jika ada keinginan dan kecintaan yang kuat. Uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, pada akhirnya akan menjadi banyak.

Rasa cinta dengan ibadah kurban, akan memunculkan semangat ingin berbagi. Ide inilah yang ingin saya tuangkan dalam buku Kurban Pertamaku. Di mana Azzam, sebagai tokoh utama, sampai bersusah payah mengumpulkan uang untuk berkurban.

Setelah uang terkumpul, Azzam diajak oleh ayah dan ibunya untuk membeli hewan kurban. Pada saat ini, Azzam belajar bahwa hewan yang akan dijadikan kurban tidak boleh sembarangan. Ada syarat yang harus dipenuhi agar seekor hewan bisa menjadi kurban.

Di dalam buku ini, Azzam juga menyaksikan proses penyembelihan hewan yang khidmat. Dengan iringan takbir, dan sunnah-sunnah yang dipenuhi. Hal ini membuat acara penyembelihan hewan tidak lagi menyeramkan. Sebaliknya, malah menimbulkan kecintaan terhadap ibadah ini.

Namun, sebuah cerita tentu tak akan menarik tanpa adanya tokoh antagonis. Di cerita ini, semangat Azzam hampir pupus justru karena ucapan kakaknya sendiri. Kak Aisyah, kakak Azzam, yang menganggap kurban adalah sesuatu yang sadis.

Kurban Pertamaku

Perjuangan Azzam mengumpulkan uang, berpuasa sunnah, memilih hewan kurban, menyaksikan penyembelihan, bahkan ikut membagikan daging kurban kepada masyarakat yang berhak mendapatkannya, semua diceritakan dengan manis di buku ini. Dengan demikian, diharapkan akan tumbuh rasa cinta kepada ibadah kurban di dalam hati anak-anak kita.

Jika semangat berkurban sudah tertanam, semoga kelak anak-anak kita menjadi anak yang peduli sekitar. Insya Allah .... (Anisa Widiyarti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Tiga Serangkai