Anak-Anak sebagai Bahan Perenungan dan Sumber Inspirasi

Perdebatan, merasa paling benar di era sosial media, bukan hanya menjadi problematika zaman ini. Kelak anak-anak kita akan hidup bersama teknologi dan sosial media saat mereka bertumbuh. Saat perdebatan memiliki ruangnya, maka perspektif yang luas menjadi barang langka dan mahal untuk manusia.

Ketika tawaran menulis Seri Ayo, Dengar! datang, saya menganggap ini sebagai sebuah kesempatan bagi saya untuk berkontribusi bagaimana keterampilan mendengar menjadi satu hal dasar yang perlu ditanamkan sejak anak-anak. Terdengar sederhana memang hanya “mendengar”, namun ternyata di dalam itu terdapat kemampuan turunan lainnya, seperti tidak menyela pembicaraan, mendengarkan dengan sepenuh hati, dan keterampilan menghargai pendapat orang lain meskipun berbeda.

Proses kreatif penulisan seri ini tidak terlalu sulit. Saya menjadikan anak-anak saya sebagai bahan perenungan dan sumber inspirasi dalam buku cerita bergambar ini.  Saya menggali kembali emosi saya, mengingat kembali bagaimana saya mengajarkan anak saya untuk tidak menyela, untuk meminta izin saat akan memotong pembicaraan, saat meminta mereka untuk tidak mempermasalahkan orang lain yang punya pandangan berbeda dengannya. Saya sebetulnya tinggal mengemas bagaimana kasus-kasus yang saya alami sehari-hari ini menjadi menarik dalam kemasan cerita dengan tokoh-tokoh  baru dalam buku cerita ini. 

Memang perlu waktu lama menyelesaikan buku cerita bergambar ini. Membangun tokoh beserta lingkungan sosialnya menjadi satu kesatuan yang utuh menjadi satu tantangan tersendiri. Selain itu, saya juga selalu menyisipkan edukasi rima dalam seluruh buku cerita bergambar yang saya susun. Rima akhir atau fonemik adalah salah satu tahapan literasi awal yang perlu dipelajari anak sebelum masuk kemampuan membaca. Seperti,

Hari ini Nina pergi ke pasar.

Sayang sekali Nina tidak tahu jalan dan tersasar.

Nah, menyusun cerita agar tetap sesuai dengan judul, kemampuan berbahasa anak, serta mempertahankan rima di akhir kata, merupakan tantangan tersendiri. Saya sering kali mentok di pilihan kata berima ini. Alurnya sudah pas, kok rimanya tidak pas. Akan tetapi, sudah menjadi komitmen sejak awal rima bagian dari edukasi yang saya sisipkan, maka kamus daring khusus rima menjadi teman sehari-hari saya untuk mencari kosa kata yang diperlukan. Namun dari sini saya jadi tahu bahwa banyak sekali kosa kata bahasa Indonesia yang belum pernah saya dengar.

Seri Ayo Dengar

Proses kreatif setiap penulis pastilah berbeda. Revisi editor tentu juga bagian manis dalam proses itu. Apalagi relasi dengan editor jarak jauh, melalui bentuk tulisan saja melalui email tanpa ada temu muka. Saya benar-benar bergantung pada ruang tertulis tersebut untuk menyamakan frekuensi kami. Syukurnya tantangan tersebut dapat dilalui. Nyatanya hanya melalui komunikasi via tulisan saja, naskah saya dapat diterima dan dicetak. Kesimpulannya, saya ketagihan membuat naskah. Jarak jauh dan ruang komunikasi yang terbatas menjadi bagian proses kreatif yang dapat ditaklukan. (Friska Asta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*